FAKTA KULTURAL & WARISAN NILAI “SEJARAH” SIMANJUNTAK

Oleh: Nikolas Simanjuntak


Niko simanjuntakPaham modern rasional mengenai narasi “tradisional sejarah” Simanjuntak, sudah saatnya perlu dan harus bisa dijelaskan agar dapat dipahami dan dihayati oleh generasi digital era masa kini. Pewarisan nilai-nilai kultural yang sehat dan sesuai konteks zaman kini, hanya bisa diperoleh dengan pemahaman modern terhadap narasi kisah tradisional yang telah beredar dari tutur lisan berantai turun temurun selama ini. Berikut ini beberapa butir penting yang bisa disampaikan dari hasil penggalian penulis berdasarkan beberapa riset dan diskursus tersebar di berbagai kesempatan, dengan harapan bisa dikembangkan untuk saling perkayaan bagi kita semua.

1. Kisah narasi Simanjuntak adalah fakta budaya (cultural fact) yang tidak berkualifikasi empiris sebagai kronologi peristiwa historis. Namun narasi tradisional kultural itu, pada saat ini sudah tersebar luas diketahui, bukan hanya oleh kita turunan Simanjuntak. Selama ini, narasi itu dianggap saja sebagai “Sejarah Simanjuntak” yang seakan-akan fakta historis empiris, sehingga itu juga selalu dicermati dengan seksama oleh mereka pun yang bukan biologis Simanjuntak. Bahkan seringkali, itu pun dipertanyakan dengan terheran-heran oleh mereka yang bukan turunan biologis orang Batak.

Di dalam narasi tradisional itu terkandung kisah seram permusuhan “antar saudara” yang tua dan yang muda, parhorbo jolo dengan parhorbo pudi. Konon, kisah itu “pernah terjadi” pada suatu masa di suatu tempat oleh Anak-anak Simanjuntak nomor 1 dan dipercayai hingga kini oleh generasi yang sudah bernomor 14, 15, 16, 17, dst. Bahkan itu pun dianggap masih “perlu diturunkan” supaya terus diingat dan dilaksanakan berlanjut. Benarkah? Lalu, bagaimana posisi narasi itu di zaman modern rasional saat ini bagi generasi SMS-internet terkini yang dikenal sebagai generasi digital?

2. Narasi tradisional itu sesungguhnya adalah tutur lisan berantai oleh moyang kita yang tidak/belum berbudaya baca-tulis. Kebenaran fakta kisah itu bukanlah bukti historis empiris, pun bukan reportase berita seperti laporan wartawan media saat ini. Juga pasti, narasi itu bukan hasil kajian penelitian ilmiah. Paling maksimal, isi kisah itu dalam Ilmu Budaya ataupun Sastra disebut Folklore, yang berarti sebagai “cerita rakyat yang berisi ajaran moral yang baik menurut tradisi atau adat-istiadat masyarakat bersangkutan.”

Detil kisah fakta peristiwa dengan gambaran situasi konteks sosio-geografis era abad ke-16 di dalam “sejarah Simanjuntak” yang beredar saat ini, sungguh sangat mudah sekali dipatahkan logikanya dari segi rasional ilmiah era modern, jika narasi itu bukan Folklore. Untuk itu, mutlak harus dilakukan tafsir teks terhadap konteks situasi. Generasi Simanjuntak terkini pastilah sudah modern rasional, berpengetahuan dari sekolah, bahkan sampai di perguruan tinggi dengan capaian akademis tertinggi.

Keseharian hidup mereka bergumul dengan ragam berita media massa tertulis dan elektronik; alat mainannya SMS-internet-facebook di laptop dan gadgets. Semua alat modern itu tidak pernah dikenal, bahkan tak pernah ‘kan terbayangkan oleh moyang kita, Simanjuntak no.1 yang diperkirakan hidup sekitar tahun 1500-an dan Sanggamulana no.8 yang diperkirakan hidup sekitar tahun 1700-an. [Selengkapnya, bisa ditelusuri tulisan “Sanggamulana Simanjuntak dalam Peta Sejarah” di dalam buku Tarombo Sanggamulana Simanjuntak dari Sidamdamon Barus, Des. 2005].

3. Kini, dari berbagai referensi ilmiah di era modern rasional, telah mudah ditelusuri oleh generasi Simanjuntak terkini untuk mengetahuinya. Antara lain rujukan berikut ini. Ternyata setelah ratusan tahun era VOC yang kemudian bangkrut pada 31 Des 1799, lalu menyusul masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1800. Tetapi barulah di tahun 1824, orang-orang Eropa/Belanda mencatat, seluruh daerah tanah Batak adalah wilayah yang tertutup isolasi rapat (splendid isolation), karena keadaan alam rimba belantara dengan beragam hewan buas dan ganasnya jurang lembah curam pegunungan yang tertutup rapat. Antar masyarakat kampung (huta) yang satu dengan yang lain, tertutup gundukan tanah tinggi dan pepohonan merapat, sehingga antar mereka tidak berkembang relasi sosio-ekonomis, bahkan selalu saling curiga sebagai musuh.

4. Imajinasi kita pelaku modern saat ini harus diputar-ulang keluar dari gambar situasi sosio-geografis tanah Batak pasca-kemerdekaan RI, supaya kita bisa merasakan rangkaian afeksi peristiwa di dalam narasi itu. Kultur zaman kisah narasi Simanjuntak itu, hampir pasti masih meramu dengan sistem barter dalam bermatapencaharian. Mereka belum mengenal pola pertanian dengan sistem irigasi dan jasa relasi ekonomi sosial.

Juga pasti, belum ada sarana jalan penghubung yang lancar antar kampung (huta). Sebab, semua infrastruktur itu baru mulai dibangun setelah tahun 1800-an, puluhan tahun setelah runtuhnya VOC, di masa pemerintah kolonial setelah Agrarische Wet 1870. Situasi di zaman itu hampir pasti, mirip dengan suku-suku primitif Amazon di Amerika Latin atau suku primitif lainnya dalam acara TV National Geographic dan Discovery Channel, Meet the Natives, yang di era global masa kini telah menjadi tontonan hiburan.

5. Salah satu contoh narasi tradisional kisah yang kurang-lebih serupa juga terjadi dalam “petualangan sarat bahaya” oleh ibu kandung Sanggamulana yakni Pinina boru Hutabarat, yang katanya dulu “melarikan diri” dari huta Lobutua Siborong-borong. Diperkirakan, itu konon terjadi tahun 1786 dalam warisan kisah. Berarti, masa itu sebelum pemerintah kolonial, tapi pasti sebelum itu tidak ada pengaruh VOC dan orang luar ke daerah Lobutua, yang terisolasi hutan lebat alam pegunungan yang dingin menusuk tulang di pagi, sore, dan malam hari. Menembus belantara raya bertabur ancaman bahaya alam dan hewan buas, Inang kita boru Hutabarat ini “bertualang” dari Lobutua, meninggalkan suami dan semua keluarga Simanjuntak no.7, yakni Raja Sinaina dan adiknya Raja Pinau. Juga masih ada dua saudara seayah Sanggamulana tetap tinggal di Lobutua, yakni Pamongkar, abangnya, dan Ompu ni Ponjot, adiknya, yang bersama-sama sebagai Simanjuntak no.8.

Singkat kisah menurut narasi, Inang kita boru Hutabarat ini tiba di Sidamdamon Barus, tepi sungai Aek Sirahar dan melahirkan anaknya Sanggamulana Simanjuntak nomor 8. Lalu, mereka hidup di pedalaman rimba raya Sidamdamon itu bersama dengan 5 (lima) orang anaknya. Hanya 4 (empat) orang yang berketurunan, yakni: Sijagurjagur, Guru Silo, Raja Bongsu, Ompu Bonggung. Dan masih ada satu lagi, Guru Somarsangkut, tapi tidak berketurunan. Ke-empat Oppung kita itulah yang menurunkan semua Simanjuntak asal Sidamdamon, yang lalu kemudian kita ketahui dari upaya penelusuran oleh generasi terkini. Mereka, turunan Sanggamulana, saat ini mendiami sekitar huta di Barus, Gottingmahe, dan Pakkat. Seterusnya dari situ, turunan mereka merantau lagi jadi urban migran perkotaan modern Indonesia (dan di luar negeri, jika ada). Namun, sebagian besar dari mereka tetap tinggal di tiga bona pasogit itu.

Bagaimana mereka menyebar ke tiga daerah itu dari Sidamdamon? Hampir pasti situasi historisnya di zaman itu (pasca tahun 1820-an), sudah masuk era peperangan lokal, penjajahan, dan penindasan yang ringkih dengan kerja paksa oleh pemerintahan kolonial, untuk membangun jalan raya dan merambah hutan bakau jadi daerah persawahan dan perkampungan (huta) yang kita nikmati di zaman ini. Tetapi lagi-lagi, semua detil fakta peristiwa di dalam narasi Sanggamulana itu, tidak bisa dibuktikan secara historis empiris sebagai laporan wartawan atau penelitian ilmiah, melainkan benar-benar sebagai Folklore, cerita rakyat yang mengandung moral kultural, nilai tradisi unik, karakter kepribadian dan kekeluargaan khas, untuk diwariskan kepada semua turunannya di masa kini dan ke generasi yang akan datang.

WARISAN NILAI KULTURAL KHAS SIMANJUNTAK

Bagaimana pewarisan nilai kultural dari rekonstruksi paham modern itu bisa diteruskan kepada generasi masa kini? Berikut ini beberapa butir yang bisa dikembangkan secara kreatif inovatif dan produktif untuk menjadi perkayaan sikap tindak di ranah privat keluarga dan publik.

1. Setiap pewarisan selalu berarti “menghidupkan kembali” kenangan sangat kuat (memoria) yang menggetarkan dorongan bergemuruh dalam sikap hati (tremendum et fascinossum) agar aktif bersikap-tindak nyata. Proses pewarisan itu sekaligus menjadi transfer kuasa, karena pewaris sebagai leluhur yang telah meninggal dunia, masih menguasai mereka semua ahli waris yang masih hidup (le mort saisit l’vif). Maka, warisan leluhur kita Simanjuntak harus bisa tampak nyata berbentuk peninggalan yang bernilai tinggi dan luhur mulia untuk dialih-generasikan ke masa yang akan datang.

2. Warisan apakah dari leluhur kita Simanjuntak dan Sanggamulana, yang bernilai luhur tinggi dan benar-benar baik serta bermanfaat untuk diteruskan bagi generasi kini dan yang akan datang? Untuk itu, kita ahli waris di zaman modern, harus menatap ke depan dengan memposisikan masa lalu sebagai bahan yang sungguh amat penting bagi pembelajaran di masa akan datang.

Menanggalkan masa lalu yang tidak bernilai untuk masa depan, memaafkan segala yang kita nilai kini sebagai kesalahan dan kekeliruan di masa lalu (forgive but not to forget). Itu persis sejalan dengan nilai tradisi asli Batak: “Sude do hinauli na denggan na burju ingkon siingoton, alai sude sahit dohot jea ingkon do bolongkonon”. Dengan begitu, warisan yang bisa kita petik dari narasi Simanjuntak, yang bernilai kultural tradisional Batak khas Simanjuntak, hanya bisa dirunut dari upaya tafsir rasional modern terhadap narasi kisah tradisional tersebar yang telah umum diketahui saat ini.

3. Tafsir apakah yang bisa dipetik dari narasi kisah itu sebagai Folklore yang bernilai luhur tinggi untuk masa kini dan ke depan? Upaya menafsirkan itu berarti juga cara merasionalkan segala mitos, atau demitologisasi, narasi Simanjuntak agar generasi terkini dapat memperoleh manfaat pemahaman rasional dari nilai tradisional Batak khas Simanjuntak, seraya menaruh rasa hormat kepada si penutur kisah masa lalu. Beberapa butir berikut ini, dapat disebut antara lain supaya dikembangkan lagi secara kreatif inovatif bagi kemaslahatan kita bersama Simanjuntak generasi kini, yakni:

(1) Sikap hormat sepenuhnya kepada orang tua yang masih hidup dan yang sudah meninggal, terutama hormat bagi Simanjuntak no.1 dan semua anak turunannya.

Penjelasan: Penomoran urutan bagi setiap orang Simanjuntak dengan asal pohon silsilah yang jelas, harus terus dicatat untuk dipelihara dan diturunkan ke putra-putrinya. Karena tanpa itu, bisa jadi timbul masalah serius, jadi tercerabut dari akar pohon asal-usul budaya keluarganya sehingga disindir sebagai Dalle.

(2) Kearifan lokal Batak dengan identitas kultur yang partikular unik dan bernilai luhur tinggi, sebagai local genius dalam sistem relasi religi sosial demokratis Dalihan Na Tolu: somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.

Penjelasan: Hula-hula kita Sihotang dan semua saudaranya (Naibaho, Hasugian, dsb), hingga kini sangat kita hormati (somba); begitu juga semua Sihotang dkk selalu dengan penuh kasih (elek) kepada kita; dan diantara sesama dongan tubu Simanjuntak, kita harus saling super hati-hati (manat-manat) penuh pertimbangan akal sehat dalam setiap relasi, agar jangan pernah sampai timbul selisih paham jadi masalah yangg serius; sementara kepada boru Simanjuntak kita selalu mangelek.

(3) Kepribadian pekerja keras berkarakter ulet, berdaya-tahan, tak kenal menyerah, sampai mampu mempertahankan diri dan seluruh keluarganya dari segala ancaman marabahaya fisik dan non-fisik untuk hidup berlanjut (sustainable survival).

Penjelasan: Karakter ini sudah dikenal luas oleh masyarakat nusantara, sebagai Batak yang keras, tegas, eksplosif, ulet, pekerja yang rajin, dst… Tapi sering juga salah tingkah, karena jadi tampak garang, sangar, tanpa basa-basi diplomasi, hingga bahkan bisa jadi diberi cap kasar (streotype). Tampilan kemasan luar “tampak kasar” ini harus diperbaiki terus-menerus oleh generasi Batak era modern kini dan ke depan. Namun, jangan sampai menghilangkan mentalitas jatidiri kepribadian berarakter yang sudah terpatri dan dikenal umum selama ini.

(4) Daya mampu spiritualitas sangat kuat dan mendalam, menyatu-padu kekuatan metafisis alam semesta (holistic resources spirit) sebagai dasar hidup rohani dengan terus mengasah olah-batin mondar-mandir ke daya olah-pikir menjadi spiritualitas.

Penjelasan: Pastilah, Simanjuntak no.1 berkekuatan fisik dan spiritual yang sungguh hebat dan mengagumkan. Dia berani mengarungi ganasnya alam dan hewan air danau Toba di tahun 1500an. Dari daerah Balige di arah timur, dia bertualang ke ujung paling barat danau di kaki pegunungan seram di pinggiran hutan lebat, hunian gajah dan harimau sumatra yang terkenal ganas. Itulah huta Sihotang, huta ni Raja i, Sihotang penguasa kampung yang memberi dia isteri, Sobosihon boru Sihotang, yang menjadi Inang dari semua turunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Mardaup, Sitombuk, Hutabulu). Dan, pastilah Raja Sihotang tidak asal sembarang marhela tu Simanjuntak. Sebab, tentu saja minimal kedua Raja ini sama-sama jagoan dalam fisik dan non-fisik. Rap halak jolma na gogo di parbadanon nang di partondion.

Pastilah juga, Pinina boru Hutabarat, Inang kita dari Sanggamulana, pun begitu hebat dan mengagumkan kekuatan fisik dengan daya spiritual sangat tinggi. Selama bertahun berbilang bulan dia berjalan kaki menjelajah hutan rimba raya pegunungan dingin menggigit, saban hari diintai hewan buas, berbekal makanan dari alam apa adanya, dan akhirnya dia tiba untuk bermukim sepanjang hidupnya di Sidamdamon.

Terbukti pula, kini kita ketahui laju kemajuan perkembangan hidup beragama dan berpendidikan, dsm., yang terjadi di tanah Batak telah dicatat dalam sejarah modern sebagai salah satu “yang tercepat lajunya” dari berbagai belahan dunia lainnya.

(5) Urutan generasi penomoran pohon silsilah keluarga Simanjuntak, relatif kecil kekeliruannya; karena kuatnya identitas khas sistem relasi Dalihan Na Tolu.

Penjelasan: Kecuali, kekeliruan bisa jadi soal yang serius seperti sindiran Dalle. Itu bisa terjadi sebagai keterputusan budaya (diskontinuitas), karena ‘praktik lalai’ atas berbagai sebab dan alasan menghilangkan keunikan tradisi dan identitas khas Batak dalam diri dan keluarga intinya (batih) disebabkan situasi lokal perantauan.

(6) Kekerasan “permusuhan antar saudara” di dalam nuansa dan nada kisah narasi Simanjuntak no.2 dst., harus ditinggalkan semua aspek kekerasannya. Tafsir teks dan konteks harus dilakukan terhadap situasi faktual sosio-geografi di era tahun 1500an, yang tidak/belum kenal budaya baca-tulis, untuk mencatat fakta laporan peristiwanya. Namun, benarlah keberlanjutan hidup diri sendiri dan keluarga, hanya bisa diteruskan oleh yang terkuat mampu bertahan (survival for the fittest).

Penjelasan: Tak penah bisa dibenarkan adanya nilai luhur yang rasional dari peristiwa “permusuhan antar saudara” untuk boleh diwariskan. Kecuali jika hal yang diwariskan adalah: jangan pernah ada permusuhan lagi antar sesama Simanjuntak kapan dan dimana pun. “Ia molo dung sega, dipauli ma, alai molo adong ia na tading, niulahan mamukka paulihon.” Ini pun local genius Batak juga.

(7) Demitologisasi rasional dari tafsir-ulang (hermeneutik) narasi itu, menampakkan nyata adanya warisan nilai tradisional kultural Simanjuntak yang bernilai luhur tinggi bagi generasi terkini, yaitu: agar kita senantiasa saling merawat kasih kemanusiaan dan melestarikan sikap anti-segala kekerasan (nonviolence actions).

Penjelasan: Semua kisah seram “permusuhan antar saudara” muda dan tua Simanjuntak no.2, parhorbo jolo dengan parhorbo pudi, telah menjadi luka batin mendalam menusuk tulang sumsum secara berantai bergenerasi dengan semua akibat ikutannya dialami hingga ke masa kini. Luka-luka batin itu dikisahkan, konon terjadi di masa lalu, di sekitar tahun 1500an, namun tanpa bukti historis empiris. Bukankah seharusnya, itu bisa dimaafkan walau tak perlu dilupakan untuk bahan pembelajaran. Forgive but not to forget. Biarlah itu tinggal, jadi masa lalu untuk dimaafkan. Maka, jangan pernah diulangi lagi sampai kapan, dimana pun, dan oleh siapa pun juga.

Luka lama “permusuhan antar saudara” itu juga terjadi oleh saudara satu Ayah (Simanjuntak) dari dua ibu (boru Hasibuan dan boru Sihotang). Maka, jelas dan tegas ada nilai dasar moral warisan yang diturunkan dari narasi Folklore ini adalah: Lelaki Simanjuntak jangan pernah berpoligami, “marimbang” atau “unang mardua-dua inanta di jabu”. Di dalam Doa Martonggo-tonggo Batak asli bisa kita ketahui moral dari umpasa ini “Si dangka ni arirang, arirang ni Pulo Batu; Na so tupa sirang naung ho saut di ahu; Na so tupa marimbang sai hot tondi di jabu.”

Menjelaskan dan memahami secara komprehensif, benar, dan baik tentang esensi kisah narasi dan luka-luka batin itu, memang juga sungguh sulit dicarikan obatnya di masa lalu. Pastilah, itu karena informasi pengetahuan, ilmu, dan teknologi terbatas di masa itu. Sulit cari obat, juga kita temukan dalam pengalaman banyak penyakit di masa lalu. Tapi di zaman ini, sudah hampir tiada penyakit yang tak bisa disembuhkan. Luka batin permusuhan ini, jika pun tak bisa kita sembuhkan, tapi bisa kita tanggalkan. Bisa kita tinggalkan seraya menatap hari esok dan ke depan. “Sae ma angka na salpu, lupa ma angka na tading gabe ilu-ilu, sai ro ma angka na uli na denggan, martua dapotan sude gabe pasu-pasu, marsogot nang haduan.”

Lagi pula kini, segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan permusuhan itu adalah nyata menjadi pelanggaran HAM (hak-hak asasi manusia), yang dilarang oleh sistem budaya dan hukum negara. Juga itu jelas dan tegas dilarang oleh sistem dunia internasional. Oleh sebab itu, patologi kekerasan dan permusuhan antar saudara tidak mungkin diteruskan sebagai warisan yang bernilai bagi generasi kini dan yang akan datang. “Ai sahit sisongon i, nang sude angka jea na sotupa, ingkon do i hatop-hatop bolongkonon.”

Ketujuh nilai warisan itu dst yang berkaitan, sepatutnya bisa dengan lebih mudah dipahami oleh generasi Batak modern di era masa kini. Namun bisa jadi juga, upaya kreatif ini menjadi batu sandungan yang “mengganggu bawah sadar” kultur tradisi para orang tua yang sulit keluar dari zona nyaman kisah di masa lalu. Alam zaman masa kini dan masa depan kiranya bisa membuktikan itu. Jika tidak, maka bukan tak mungkin generasi digital Simanjuntak masa depan akan menjadi “terancam punah” karena tercerabut dari akar kulturalnya dan tidak bisa lagi menelusuri jejak awal asal-usulnya secara rasional modern?

*** (NikS, 08.i.13)

3 Comments »

  1. 1
    junianto simanjuntak Says:

    kamu tidak tau adat batak….. jadi jangan sok buat tulisan yg anda sendiri tidak mengerti…….

  2. 2
    seo Says:

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

  3. 3

    Hi there, for all time i used to check web site posts here early in the morning, since i
    love to gain knowledge of more and more.


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: