YUBILEUM 75 TAHUN GEREJA KATOLIK DI TANAH BATAK

YUBILEUM 75 TAHUN GEREJA KATOLIK DI TANAH BATAK,

”Makan Sasagun ‘gak sih?”         

Oleh Vincensius Sihombing

Diiluminasikan oleh pandangan Filsuf pertama Indonesia, Prof N Driayakara, S.J., kita memandang Yubileum 75 Tahun Gereja Katolik di Tanah Batak sebagai suatu momentum historicum untuk melakukan repleksi tentang hakikat, makna dan tujuan eksistensial kita sebagai Gereja dan Nusa Bangsa Indonesia.

Betapa tidak, sebab akan terkuaklah di dalamnya pejiarahan mengagumkan akan para Misionaris kita yang datang dari Provinsi Kapusin Belanda, Pastor Sybrandus Van Roossum yang tiba pada penghujung Tahun 1934 di Balige. Atas peristiwa itu, pastor Gentilis yang menulis banyak hal tentang Misi Kapusin di Sumatera dan Kalimantan menulis, bahwa ” Matahari Telah Terbit Di Atas Balige”. Makna liris prosa pastoral itu diteguhkan oleh Mgr. Matthias Brans, OFM Cap Vicarius Apostolic van Padang ketika itu, dengan semboyan ”Carilah Kontak Pada Waktu Siang dan Pada Waktu Malam” (Lihat Pastor Leo Joosten, OFM Cap., Tali Pengukur Jatuh Ke Tanah Permai, Kabanjahe, 2005). Tidak berhenti di situ, Gereja Katolik laksana Salib Kristus mulai tertancap di Bumi Tanah Batak.

Di tengah tantangan geografis dan kultural, politis dari Kerajaan Belanda, arus protestantisme dan pertentangan dari agama asli masyarakat setempat, Pastor van Roossum disusul oleh Saudaranya Pastor Diego van den Biggelaar memasuki Pulau Samosir, 1938, bersama para penyusulnya Pastor Beatus Jennisken dan Benjamin Dijkstra. Sementara Pastor Marianus van den Acher ke Humbang Lintongnihuta dan Pastor Oscar Nuijten, Pakkat, Humbang, hingga menetap di Pakkat sejak tahun 1939 dan diserbarluaskan lagi sampai ke Daerah Silindung, Tarutung oleh Pastor Lambertus Woestenberg. Mereka dibantu oleh para Katekis tangguh, di Balige oleh Panggabean, di Samosir ”Pandita” Josef Situmorang dan Pandiangan, serta Johanes Chrisostomus Calvin Tampubolon yang sangat gigih bersama Pastor Dijkstra hingga mendirikan Paroki Pangururan, Tahun 1941.

 Misi selalu diwarnai dinamika yang menggeletik antara panganut Protestan yang memandang aneh hidup selibater para Imam/Pastor/Bruder dan Suster, tentang kewajiban membayar iuran ke Gereja, tentang pendidikan sekoalh/misi kesehatan Katolik yang tampil sebagai nomor wahid dalam mutu, pelayanan dan disiplin karena rihnya adalah dedikasi. Betapa sumir, akan tetapi demikian sekelumit tentang Kerajaan Allah di Tanah Batak, Tapanuli pada pertengahan Abad XX, (Bandingkan Buku Kenangan Pemberkatan Gereja Katolik Inkulturatif Pangururan, 1997).      

 Tahun 2009 ini kita tiba pada Yubileum 75 Tahun Gereja Katolik di Tanah Batak. Itu berarti bahwa pada tahun 1984 kita kita telah berada pada Emas atau Limapuluh Tahun Katolik di Tapanuli. Akan tetapi dibandingkan dengan Perayaan Emas, 1984 yang berbarengan dengan Perayaan Syukur 450 Tahun Gereja Katolik di Indonesia, Pearayaan atau Yubileum 75 Tahun ini terkesan dingin, diam-diam, hohom (laksana makan Sasagun). Pada hal dikomparasikan dengan kondisi Gereja dan Bangsa Indonesia 25 Tahun yang lalu dengan sekarang, sangat jauh lebih kompleks bahakn konfliktual baik secara internal maupun eksternal. Namun, mengapa proses pelaksanaan puncak Yubilieum ini terkesan sepi? Pada hal, Keuskupan kita, KAM baru setahun yang lalau menyelenggarakan Sinode V dengan Topik yang sangat mendasar yaitu Panca Tugas Gereja.

 Perayaan Emas Tahun 1984, justru boleh dikatakan sebagai sebuah Perayaan yang sangat bernas serius dinamis ”spekatakuler” dan sampai dengan sekarang masih menyisakan banyak nilai yang menyangkut kesetiaan pemurnian dan pembersihan serta pembeliaan motivasi kepada Gereja dan Bangsa. Di dalamnya amat pantas untuk dikenang digali dan digugat kembali serta belajar dan bertanya kepada para kontributor, seperti Imam Muda yang kreatif pada waktu itu, Pastor Redemptus Simamora, OFM Cap., yang sangat berpeluh dalam menganimasi Generasi Muda Katolik pada sekitar tahun emas itu. Siasat ini akan menggugah kekatolikan dan kebangsaan kita di tengah berbagai krisis kehidupan bermasyarakat dalam aneka fenomena formalisme beragama akhir-akhir ini.

 Lumayan mengundang pertanyaan kritis, kenapa Proses Yubileum75 Tahun kali kurang dinamis betapapun harus diakui bahwa Panitia sudah bekerja keras siang dan malam untuk memenuhi berbagai tuntutan dan arahan Panitia Pengarah dan Bapa Uskup Agung. Dinamika kita sebagai sebuah entitas jasmani dan rohani justru semakin komplek. Kompetisi kita di dalam Gereja sendiripun semkain tajam apalagi pada sisi-sisi eksternal, semakin bukan main pada era dunia maya, face book, internet dan berbagai media global lainnya, membuat diunia serasa seluas bulungi motung. Konsientisasi dan animasi paling mendesak yang mesti diarahakan adalah kepada OMK (Orang Muda Katolik). Plis, dh ah!

 Ada kecenderungan di pihak mereka tergoda dan tertantang untuk menyamaratakan semua ajaran agama dengan dalil hak asasi manusia dan kemajuan perkembangan jaman. Bisa jadi hal ini karena makin lemahnya pendampingan pastoral, minimnya katekese yang kontekstual, di mana para Pastor Paroki dan kategorial semakin jauh dari Umat Basis. Patut dicatat untuk menjadi periksa, bahwa para Pastor sudah semakin jarang menginap di Stasi kecuali karena faktor geografis dan cuaca yang tidak bersahabat, sementara para Suster sudah jarang yang pastoral ke pedalaman mendampingi dan melatih paduan suara Remaja, Mudika dan Ibu-ibu Katolik. Ke  mana militansi dan cinta nyata kita? Ke karya pendidikan dan kesehatan kita? Ke hand phone? Cape deh! Kecuali itu di ranah Batak Tapanuli, perihal amanat Konsili Vatikan II (1962-165) yang akan kita syukuri sarat repleksi dan evaluasi pada tahun 2012  yang akan datang sebagai momentum emas.

 Sebagian dari itu, adalah pandangan dan stikma tentang ulos, pemaknaan gondang somba dan gondang mula-mula sebagai (Logos Spermaticos) dan juga ritual Horbo Bius (mangalahap hoda Sintasinta) sebagai ritus persiapan Injil atau (Praeparatio Evangelica). Secara umum dapat kita pandang dengan jeli dan komprehensip tentang kuwalitas iman keluarga-keluarga Katolik. Kondisi ini terindikasi pada kuwalitas Seminaris kita. Sungguh semakin merosot tidak hanya pada bidang akademik akan tetapi juga pada sisi disiplin diri, mental dan sikap kerjakeras.

 Fenomena ini adalah pemandangan yang mudah dialami oleh Umat bila berhadapan dengan Imam Muda (Balita). Imam Muda Balita kita bagaimana kuwalitasnya? Bukan karena mereka tidak lulus dari STFT, itu tidak cukup diragukan akan tetapi tentang discretio spirituum terutama saat mereka berhadapan pastoral dengan umat, terutama generasi kaum wanita gadis belia dan hal-hal yang bersifat material visibel. Apakah mereka semakin lumayan kapabel dan dewasa dalam aksi dan rekasi? Menyatu dengan itu, akhir-akhir ini hirarki Gereja sudah semkain terbuka terhadap maslah-malsah ihwal duniawi, seperti politik. Pengalaman empiris yang positif ini paling tidak pada tataran dialog dan perjuangan untuk saling mengerti (Bdk. Ad Gentes, 21).

 Sebab itu, waktu yang masih tersisa dalam menuju Puncak Perayaan pada Pertengahan Desember nanti, momentum Yubileum 75 Tahun ini amat strategis bila dimaknai dengan berbagai aneka-aksi. Tidak hanya sekedar rutinitas sosial karitatif namun terutama konsientisasi yang semuanya bermuara dalam paradigma kaderisasi. Yubileum ini hanya lebih pada Perayaan ritual-liturgis-seremonial semata bukan berarti tanpa nilai dan substansi, akan tetapi kesadaran akan pentingnya peristiwa ini maka era ini amat potensial diberdayakan oleh semua pihak terkait sebagai sarana konsolidasi, sinkronisasi dan ”rekonsiliasi” Katolik KAM terutama yang berbasis Batak. Kesadaran ini berpondasi pada posisi strategis masyarakat Batak di kancah Nasional dan Gereja KAM, terhusus Indonesia dalam bidang budaya-tradisi, ekonomi, politik dan hukum.

 Tidak ada yang perlu dikawatirkan apalagi dicurigai, kalau perjalanan 75 Tahun ini seolah-olah diserempetkan dengan Agenda Politik Lokal, seperti Pilkada Humbahas, Tobasa, Samosir, Karo, Simalungun dan Siantar Tahun 2010 mendatang. Hal-hal itu dengan sendirinya akan berjalan sesuai dengan mekanisme hukum perundang-undangan yang masih berlaku. Iya, gak sih?

 Dengan demikian, Yubileum ini akan membersitkan penghargaan kepada para Misionaris kita, dengan bertanya: bagaimanan nasib tulangbelulang Pastor de Vet dan Waterreus di Pangururan? Sambil melihat Ibrani 13:7., betapa mungkinkah itu menjadi tempat jiarah dan wisata rohani dalam paduannya dengan rencana strategis Pemkab samosir? Mungkinkah ada semacam tugu dan kobah yang hidup atas mereka, termasuk Pastor Disego van den Biggelaar dan Nujiten? Tidak kurang dari 34 Tahun Mgr. Pius Datubara menjadi Uskup Agung kita, apa yang bisa kita integrasikan dengan Yubileum ini? Bagaimana pula data statistik kita, apakah cukup lengkap tentang penyebaran geografis dan panggilan Umat di berbagai reksa kategorial untuk membantu kita menjadi Gereja Modern lokal, diasporal dan kategorial?

 Belum lagi masalah-masalah fasilitas gereja kita yang kurang terawat, dimakan waktu dan ditumbuhi oleh lalang di berbagai Paroki dan Stasi. Kiranya Yubileum ini semakin menayatukan kita dengan Para Misionaris dan Katekis kita yang sangat berjasa membangun dan mendirikan Gereja di Tanah Batak. Bagaimana apresiasi kita terhadap mereka? Akhirnya, Selamat menuju PerayaanYubileum berdasarkan SK Nomor 592/PAR/BAL/KA/VIII/09. Proficiat!!!

 Vincensius Sihombing

Pemerhati Dinamika Masyarakat Gereja Akar Rumput. Tinggal di Jakarta

(Anggota IKKSU)

HP., 0813 7500 3070 dan 081226 766 266

1 Comment »


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: