Filsafat “Memberi”

Oleh Kasdin Sihotang

“Hiduplah untuk  memberi sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

(Dikutip dari Film Laskar Pelangi)

kasdin_1Bagi penulis, kalimat yang dikutip di atas merupakan ungkapan yang karikatur_1sangat bernas dari film Laskar Pelangi, sebuah film yang mendapat perhatian serius dan luas dari masyarakat, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan jajaran kabinetnya, tahun lalu. Dari awal hingga akhir film, kalimat bernas tersebut diucapkan oleh Pak Harfan (yang diperankan oleh Ikranagara) sebanyak dua kali dengan intonasi yang sangat meyakinkan dan berwibawa.

Kutipan di atas memiliki arti yang sangat mendasar serta aktual dengan konteks situasi sosial sekarang secara global maupun lokal. Atas alasan itulah penulis menempatkannya sebagai titik pijak refleksi etis di kolom etika ini.

Ada dua alasan mendasar untuk mengatakan penilaian positif terhadap ungkapan di atas. Pertama, fenomena perilaku manusia modern yang semakin menjauh, bahkan melupakan filosofi tersebut dari kenyataan hidup sehari-hari. Dengan kata lain, praktik kehidupan manusia modern justru bertolak belakang dari ungkapan tersebut. Apa yang diafirmasikan dan diperlihatkan oleh manusia modern adalah kebalikan dari ungkapan di atas, “hidup untuk menerima sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk memberi sebanyak-banyaknya”.

Dalam The Prospects of Industrial Civilization (Routledge, 1996: 15-29) Bertrand Russel dan Dora Russel menunjukkan bahwa merajalelanya aktivitas tersebut telah menumbuhkan sikap rakus dalam diri manusia modern dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Manusia modern tidak lagi memperhatikan nilai-nilai dan kualitas cara dalam memperoleh sesuatu. Perhatian utamanya adalah kuantitas hasil, bukan kualitas perbuatan. Karena itulah kata kunci baginya adalah “produk”.

Konsekuensi lebih lanjut dari pengakuan tersebut, manusia modern menjungkirbalikkan nilai intrinsik (baca: nilai-nilai etis) menjadi nilai instrumental (baca: cara memperoleh sesuatu) dan nilai instrumental dijadikan sebagai nilai mendasar. Cara yang tidak benar dianggap sebagai sesuatu yang penting, sementara cara yang benar dinilai sebagai sesuatu yang tidak penting, bahkan dirasakan menghambat pencapaian tujuan. Dalam menjalankan bisnis, misalnya, manusia modern lebih menjadikan penipuan sebagai jalan atau cara satu-satunya untuk memperoleh keberhasilan, dan nilai-nilai etis seperti kejujuran dan keadilan, tanggung jawab moral serta fairness, dipandang sebagai penghambat untuk pencapaian kesuksesan tersebut.

Tujuan

Dalam pola berpikir, seperti itu, manusia modern menempatkan purpose ( tujuan) pada posisi utama, dan mengeliminasi motivation (baca: nilai-nilai etis) dari hatinya, meminjam terminologi Robert Duska, pemerhati etika bisnis. Tujuan itu tidak lain adalah mendapatkan sesuatu. Dalam pengakuan seperti itu landasan berpikir adalah utilitarianistik. Prinsip ini mengukur segala-galanya dari satu hal, yakni manfaat (baca: keuntungan). Baik-buruknya sebuah tindakan dilihat dari apakah membawa keuntungan atau tidak. Yang baik adalah membawa keuntungan atau kegunaan sebesar mungkin, yang buruk adalah yang menuntut pengorbanan baginya.

Kedua, ungkapan tokoh Pak Harfan di atas mengandung pesan moral yang mendalam sekaligus mengungkapkan hakikat manusia yang sesungguhnya. Dalam hidup manusia memang selalu ada dua modus kegiatan, yakni “memberi” dan “menerima”. Tetapi, dari kedua modus itu, sebagaimana ditegaskan oleh Gede Prama dalam Belajar dari Prinsip-Prinsip Sungai (Elexmedia Komputindo, 1997), yang mendengung makna moral adalah yang pertama.

Mengapa? Karena aktivitas “memberi” menyertakan nilai-nilai seperti ketulusan, keikhlasan, ke-pedulian, bahkan pengorbanan. Artinya, dalam aktivitas “memberi” orang dituntut untuk meninggalkan sikap egois dan menggantikannya dengan sikap peduli terhadap orang lain. Orang seperti ini selalu keluar dari kepentingannya, dan menempatkan kepentingan orang lain di dalam hati serta pemikirannya. Meminjam bahasa psikologi sosial, ia menjadikan dirinya “alter ego”.

Empati

Oleh karena itu, aktivitas “memberi” juga mengungkapkan sikap empati. Seseorang mau memberikan karena ia mau merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan membawanya keluar dari situasinya. Dan ini dilakukan dengan sikap tanpa pamrih, tanpa iming-iming atau tanpa kepentingan. Secara paradoksal dapat dikatakan aktivitas “memberi” merupakan aktivitas yang mengosongkan diri untuk mendapatkan kepenuhan diri sebagai manusia. Inilah yang oleh Erik Fromm disebut to be atau membentuk jati diri yang sebenarnya. Keberanian setiap orang untuk menjadikan prinsip ini sebagai pijakan hidup dan perilaku sehari-hari memperlihatkan bahwa ia juga sadar sebagai makhluk personal dan sebagai makhluk sosial. Ia hanya berkembang karena memberikan perhatian pada orang lain.

Bagaimana dengan realitas manusia Indonesia, khususnya kebanyakan elite politik kita? Jawabannya cukup jelas. Apa yang disinyalir oleh Bertrand Russel dan Dora Russel di atas merupakan fakta yang tak terbantahkan dari kehidupan politik. Hari-hari belakangan ini sinyalemen Russel tentang karakter buruk manusia modern mencuat secara jelas. Lihatlah koalisi yang mereka bangun, akhir-akhir ini, selalu terkait dengan kepentingan.

Elite politik memang sering menggemakan frase utilitarianistik, “demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara”. Namun, makna ungkapan itu dapat dipertanyakan. Apakah frase utiltarianistik itu sungguh-sungguh lepas dari kepentingan? Ataukah itu hanya sebatas jargon? Fakta sejarah telah menunjukkan bahwa tidak ada yang luput dari apa yang disinyalir oleh Bertrand Russel dan Robert Duska di atas. Ketika kepentingan mereka tidak terakomodasi, koalisi mengalami jalan buntu, bahkan berakhir dengan permusuhan. Komunikasi politik terganggu. Merujuk pada ungkapan Pak Harfan yang dikutip pada awal tulisan ini, kemauan mereka ada lah “hidup untuk menerima sebanyak-banyaknya” dan bukan “untuk memberi sebanyak-banyaknya”.

Menjadi elite politik yang sejati memang bukanlah sesuatu yang gampang, namun juga bukan sesuatu yang mustahil. Menurut hemat penulis, yang paling mendasar adalah keberanian untuk mematikan sikap egois dan sifat rakus, dan kesadaran bahwa posisinya adalah tanda kepercayaan rakyat, karena itu digunakan untuk kepentingan rakyat, serta komitmen pada janji yang digembar-gemborkan di hadapan rakyat.

Jadi, aktivitas “memberi” hanya akan menjadi realitas di kalangan elite politik kalau tiga hal yang disebutkan merajai hati dan pikiran mereka. Kalau tidak, mereka akan tetap “hidup untuk menerima sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk memberi sebanyak-banyaknya”.

Penulis adalah dosen Filsafat Ekonomi di FE dan Filsafat Manusia di FPsi, serta staf inti PPE Unika Atma Jaya, Jakarta

2 Comments »

  1. Njuah-njuah banta krina…salam kenal…aku berru manullang i palenggam nai…ra itandai ke ngo natua-tuangku M. br. Tinambunan mantan kepala sekolah SD Negeri Hutagodung. aku mo berru siangkangenna. Sukses selalu GBU.

  2. 2
    John Says:

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Aerilyn


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: