RANCANG BANGUN ASRAMA KATOLIK

Dikembangkan dari Sharing pengalaman reflektif tentang Asrama Katolik

Oleh: Nikolas Simanjuntak

niko-s_lg1Asrama adalah sebuah kawah candradimuka untuk FORMATIO KAUM MUDA. Tapi mungkin saya subyektif juga. Karena  saya pun pernah dibesarkan di Asrama. Termasuk dulu pernah satu tahun di Asrama putra Pakkat ketika masih zaman ‘purba kala’ dengan fasilitas ‘asal peak di podoman’. Dari asrama Pakkat itu saya melanjut ke Seminari…. Selama di Bandung pun saya hidup di Asrama GMKI. Dan lagi, saya baru saja kembali dari kunjungan di Kefamenanu pulau Timor yang selama satu minggu sambil kerja pendampingan profesi, tapi juga refreshing spiritualitas dengan doa-doa harian Brevir bersama para Frater calon Fransiskan Conventual. Mereka juga sedang membina ratusan putra-putri anak bangsa ini yang saya perkirakan sebagian dari mereka akan menjadi kader pimpinan masyarakat di masa depan. Hasilnya akan nampak sekitar 20-30 tahun yang akan datang..

Asrama Putra Katolik Pakkat

Namun di Kefa itu, kami juga berdiskusi keras atas sharing pengalaman saya beberapa tahun yang lalu bersama Rekan-rekan Jesuit, yang pada sekitar awal tahun 1990-an tampaknya mereka berpendapat kuat SUDAH TIDAK ZAMANNYA ke depan model pendidikan berasrama. Karena itu banyak asrama yang dulu mereka bina, lalu dibubarkan kemudian diganti dengan model komunitas lain yang terbuka untuk pengalaman multi-kultural masyarakat plural. Hampir pasti sikap itulah yang barangkali menjadi alasan ditutupnya REALINO di Yogya, DE BRITO di Semarang, KANISIUS, dsb., dan juga sikap itu pula mempengaruhi kami para pendamping Uskup Bandung ketika itu sehingga di Bandung pun tampak dihindarkan model asrama ketika itu [Padahal ada beberapa Asrama putri yang masih jalan juga seperti Providentia yang dibina para Suster Ursulin]… Saya sendiri ketika itu terheran-heran sendiri (mungkin TREMENDEUM ET FASCINOSUM) sambil mendengarkan argumentasi kuat dan pertimbangan yang sangat rasional bahwa GEREJA MASA DEPAN Pasca Konsili Vatikan II seharusnya membaur dengan suka duka, kegembiraan, dan harapan (Gaudium et Spes) sesama kaum muda sezamannya.. . Mereka yang akan jadi calon pimpinan Gereja dan Masyarakat masa depan harus juga sehidup-semati dengan pengalaman sulit yang dihidupi generasi mereka sendiri agar tidak menjadi eksklusif… dst.. Saya sendiri masih mendukung Asrama tapi mungkin subyektif. Namun mungkin ada benarnya juga, bagaimana MODEL GEREJA MASA DEPAN di benak para Biarawan untuk disikapi oleh generasi masa kini yang sedang kita dampingi persiapannya?

SURVEY TENTANG ASRAMA 10  TAHUN YANG LALU

Bagaimana Gereja mempersiapkan FORMATIO calon pimpinan Masyarakat dan Gereja masa depan (pasca Konsili Vatikan II) dalam situasi psiko-sosial yang multi-kultural dengan mobilitas dan mutasi sangat tinggi di segala hal (territorial dan fungsional kategorial). Hidup di asrama itu terkesan kuat tidak memenuhi maksud itu lagi. Namun cara berasrama itu mungkin pernah berhasil di masa lalu, ketika arus informasi dan mobilitas tidak seintensif masa kini. Dasar kebijakan Gereja untuk menyongsong itu lebih dilihat pada Ajaran Sosial Gereja misalnya dalam Nostra Aetate dan Gaudium et Spes. Gereja masa depan dituntut memperjuangkan NILAI-NILAI tentang setidaknya 4 hal simultan di segala bidang yakni: PERDAMAIAN, KEBEBASAN, PERSAUDARAAN sejati, KEADILAN SOSIAL, dan di dalam 4 hal itulah yang menjadi KEBENARAN. Sebab itu Gereja menjadi terbuka total karena nilai-nilai itu pun ada DIMANA-MANA di semua ILMU dan PROFESI. Kaum profesional intelektual (Awam yang TAK-tertahbis maupun Religius yang TERTAHBIS) bertanggung- jawab serupa untuk memperjuangkan itu lahir batin dunia akhirat agar nilai-nilai itu terwujud nyata dan kemudian Gereja lalu menguduskannya dengan Sakramen milik monopoli Gereja. Kalau begitu, baik Awam maupun religius bertanggung- jawab sama dan serupa, walau dengan FUNGSI bisa berbeda akibat KARUNIA yang berbeda-beda tapi dalam SATU ROH. Oleh sebab itu formatio calon pimpinan masyarakat dan Gereja menjadi tanggung-jawab bersama kita juga. Pembinaan dan pendampingan kaum muda calon pemimpin itu bukan hanya urusan kaum religius, seperti yang dilakukan oleh para Biarawan dengan membina Asrama. Para calon pemimpin masa depan itu pun seyogianya bukan hanya yang akan masuk Seminari. Atau bisa juga itu menjadi berarti: bahwa masuk Seminari memang harus calon pemimpin masyarakat dan tentu saja calon Religius/Imam masa depan sesuai dengan tuntutan Gereja masa depan…[Seingat saya survey yang dulu mengenai hal itu]. Lalu, itu pula jadi soalnya: apakah model Asrama masa kini (BUKAN MASA LALU) sudah akan bisa menjawab tuntutan GEREJA yang plural multi-kultural dalam mobilitas sosio-psikologis tingkat tinggi dengan segala duka, kegembiraan, harapan yang persis sama dialami juga oleh masyarakat yang akan mereka pimpin itu nantinya? Banyak Rekan seperti sharing saya itu berusaha melakukan MODIFIKASI ASRAMA misalnya dengan pola PENDAMPINGAN seumur hidup dalam KOMUNITAS DIASPORA, atau cara lain. Memang untuk itu rasanya benar juga bahwa semua PROFESIONAL dan INTELEKTUAL di lingkungan Gereja harus sama-sama berusaha keras dengan sepenuhHATI, AKAL BUDI dan PIKIRAN jernih untuk mencari jawaban yang TERBAIK menurut panggilan Gereja masa depan itu…

MENJAWAB KEBUTUHAN 20 TAHUN YANG AKAN DATANG

Asrama ditantang untuk dapat menjawab kebutuhan para penghuni Asrama itu dalam menghadapi situasi ketika mereka menjadi mapan di masa sekitar 20an tahun yad. Di masa itulah mereka diharapkan menjadi pimpinan masyarakat dan Gereja kita. Kita, para pendamping mereka saat ini memikul tanggung-jawab, bilamana mereka berhasil baik, ya OK. Tapi jika nanti mereka kesulitan, itu artinya ada yang kurang tepat kita lakukan saat ini [Contoh soal bench-marking situasi Eropah kini, yang mungkin sekali tidak dipersiapkan oleh generasi Eropah dulu?]. Di masa 20an thn yad itu diprediksi fokus soal kita di Indonesia adalah situasi Psiko-Sosial yang MULTI-KULTURAL dengan MOBILITAS SUPER TINGGI dalam akses komunikasi informasi secara territorial dan fungsional kategorial, juga dengan ruang PRIVACY yang tersedia dimana-mana, sehingga kontrol privat akan sulit dilakukan..

Lalu bagaimana FORMATIO untuk aspek EMOSIONAL, SOSIAL, KULTURAL dengan metode  didaktis pedagogis yang PROPERLY MATCHED untuk membangun  SOCIAL MENTAL STRENGTH dalam menghadapi  situasi super mobil yad. Bagaimana Praktik LINTAS-Spiritual Kultural yang pasti akan mereka hadapi juga? Bagaimana mereka disiapkan dengan kesaksian pengalaman untuk DIALOG LINTAS-SPIRITUAL KULTURAL misalnya dalam arti dialog HIDUP BERSAMA lintas spiritual-kultural, lintas-daya mampu ekonomis, dan lintas lain-lainnya. Juga bagaimana mereka disiapkan berdialog untuk ragam perbedaan dan DISPARITAS yang tak-terjembatani secara natural?
Tanda-tanda kesulitan itu sudah nyata dialami oleh generasi masa kini, dan tampaknya akan semakin sulit bagi generasi yad… Belum lagi prediksi akan PUNAHNYA kultur masyarakat asli (termasuk Batak) sekitar 2-3 generasi dari sekarang?  Kita tentu yakin Gereja kita adalah GURU MORAL yang tak-pernah kehabisan akal untuk membimbing kita mencari solusi. Kita, Anak-anak Gereja masa kini ditantang bersama-sama, dengan tanggung-jawab bersama untuk itu, setidaknya agar kita tidak mengulangi pengalaman Eropah-Amerika masa lalu…

TANGGUNG-JAWAB GEREJA

Tanggung-jawab Gereja yang dimaksudkan disini terutama yang sudah terinstitusi seperti KAM, komunitas religius, dsb. Sudah sejak lama Gereja di Asia misalnya dari Konferensi Uskup se-Asia (FABC: Federation of Asian Bishop Conference), 1990, di Bandung, menuntut THE NEW WAY OF BEING CHURCH… Semua tokoh/ pimpinan Gereja kini rasanya sudah pasti mengetahui itu. Kebetulan saya masih ada referensi buku yang ditulis seorang Awam perempuan Jeanne Hinton: WALKING IN THE SAME DIRECTION, A New Way of Being Church, WCC Publication, Geneva, 1995, a.l. menyatakan: … there is also a common thread throughout: a new way of being church that is emerging from “the base” — from the poor and marginalized, from grassroots. It is emerging among ordinary lay Christian who are working out their faith in everyday life, discovering what authentic Christian life-style should mean in today’s world, what it means to be church, to rediscoverChristian community. Many church leaders and theologians see in these basic Christian communities as the church of the future… The communities … are known by many different names and abbreviations; indeed, a bewildering variety — Basic Ecclesial Christian Community (BEC), Basic Christian Community (BCC), Small Faith Community (SFC), Christian Popular Community (CPC), to name  a few..

Si penulis itu pun menyatakan THREAD… Lalu apa yang kita akan lakukan dengan Asrama sebagai Christian Community yang akan segera, dan/atau sekaligus mereka juga akan membentuk HUMAN COMMUNITIES di masyarakat, yang berarti tanpa identifikasi Kristiani namun tetap dalam kultur Kristiani yang otentik…? Itulah soalnya, soal kita, dan soal Asrama kini… Rasanya tidak cukup dengan “Asrama masih perlu”… Perlu perbaikan, ya, OK, tapi dalam hal apa saja, bagaimana, dan ke arah mana? Barangkali tidak cukup juga “daripada mereka indekost…” Di Eropah, di Amerika, ya THREAD kini serupa juga… Ini sudah di depan mata ketika penulis masih mengatakan THE CHURCH OF THE FUTURE, padahal itu di tahun 1990-an… Asrama itu massal, liturgi dan ritus-ritus Gereja pun masih massal? Disitu jelas ada bahaya massalisasi mengancam, karena bisa jadi ‘massa pasar’ lalu Gereja akan menjadi ‘GEREJA PASAR’ dan ritus-ritusnya menjadi events ‘marketing spiritual’ seperti yang sudah merasuki INDUSTRIAL POLITIC MARKETING  dalam praktik terkini? Lalu dari situasi itu akan pastilah menciptakan SPIRITUALITAS TRANSAKSIONAL seperti politik transaksional terkini…? Lalu masihkah kita katakan Asrama perlu daripada indekost? Ya, juga, tapi dimana TANGGUNG-JAWAB Gereja terkini? Dimana penggembalaan Gereja terhadap segala bahaya itu? Gereja sudah katakan itu harus dengan THE NEW WAY OF BEING… ASRAMA… Penggembalaan Gereja bukan hanya urusan Hirarki, tapi semua orang yang sudah di-BAPTIS… Dan nanti di hari Paskah, kita semua akan mengulangi JANJI BAPTIS itu: Sanggupkah Saudara …. memperjuangkan HAM? Anak-anak Asrama itu pun Manusia yang punya HAM juga ‘kan…?

SISTEM MANAGEMEN ASRAMA MODERN

Kita patut berterima kasih, ternyata gagasan tentang Sistem Management Asrama bagi generasi masa kini, menjadi semakin membuka wacana soal-soal praktis bagi para kita semua agar semakin berupaya lebih berkontribusi menurut TALENTA dan KARUNIA masing-masing.
Kesaksian pengalaman dan pemahaman konsepsi kiranya bisa semakin lebih banyak dipertukarkan. Soal-soal dan perdebatan dalam Sinode KAM yang lalu tentang pendidikan dan asrama itu, mutatis mutandis kurang-lebih serupa di hampir seluruh daerah Indonesia dan juga terus dikembangkan oleh para aktivis Gereja di tingkat nasional.

Solusi tunggal hampir pasti tidak ada (?) Bench marking ke Pesantren dan Asrama Sekolah Unggulan model TB Silalahi bisa dilakukan. Tapi anehnya, yang saya ketahui sendiri di masa sekitar 1990-an justru mereka itu mengembangkan sistem management Asrama dengan BELAJAR DARI SEMINARI dan Sekolah Katolik di masa lalu. Sama halnya mereka pun juga belajar mengenai  Kaderisasi  Kepemimpinan dari  model awal yang dikembangkan di lingkungan Katolik. Bahwa kuat gejala kini, justru kita sendiri menjadi ketinggalan. .., mungkin sekali karena KITA BERHENTI BELAJAR-ULANG sebagaimana lazimnya gejala De Ja Vu, Ai Na Huboto i do, ya jadi stagnant… Yang pasti menurut hemat saya, VISI dan MISI penggembalaan Gereja kita bagi generasi masa kini menyongsong masa depan, pastilah berbeda SASARAN OBJECTIVEs dengan Pesantren dan model Sekolah Unggulan TB Silalahi. Karena itu pastilah Konsep STRATEGIS dan TAKTIS management ASRAMA KATOLIK perlu dirancang-bangun-ulang secara komprehensif, KONTEKSTUAL, AKTUAL, dsb… Dan tentu saja, untuk itu seyogianya tersedia AHLI POLICY MANAGEMENT mikro dan makro dari banyak profesional Katolik agar bertarung gagasan dalam BATTLE OF IDEA.

Model Pendampingan seumur hidup, misalnya, salah satu alternatif yang sudah banyak dilakukan oleh teman-teman, termasuk oleh saya sendiri sejak thn 1990-an, yang hingga kini sudah mendampingi puluhan anak-anak muda yang diantaranya banyak yang sudah jadi ‘Orang’ tapi ada juga beberapa yang saya gagal, bahkan konyol juga. Yah… itulah pengalaman hidup… Generasi saya juga mengetahui model pendampingan yang dibuat oleh Pastor Wiro dari Medan, punya banyak anak dampingan di Jakarta kini sudah jadi ‘Orang’ juga banyak anak dampingan dari Pastor Nuyten, dsb… Itu diantara salah satu model pendampingan yang bisa dikembangkan dengan macam-macam strategi dan taktis lain-lainnya. Tidak semua berhasil, tentu saja, maka harus terus dipelajari dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dipertukarkan. .. Itulah yang barangkali dimaksudkan oleh para Ahli Management dalam pemahaman saya bahwa Visi, Misi,  bisa diaktualkan dan dikontekstualkan, tapi STRATEGI, TAKTIS, dan ACTIONS and DECISIONS perlu terus-menerus direvisi dan direvitalilasi. .. Ini mungkin salah satu AWAL dari SOLUSI yang bisa dikembangkan oleh semua orang yang berkehendak baik. Dengan demikian, inti soal rancang bangun Pembinaan Asrama kini untuk generasi masa depan, ternyata bukan satu-satunya soal uang. Atau bisa dikatakan juga, ternyata uang saja tidak menyelesaikan soal pembinaan asrama yang baik dan benar.

SEKIAN DAN SALAM.

(Penulis adalah anggota milis IKKSU)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: