“MENGINTIP CALEG-CALEG KATOLIK ” DALAM PEMILU 2009

Oleh Vincensius Sihombing*)

Lukisan Panorama Pedoman arah

Amat interesan membaca Menjemaat KAM Edisi Nomor 1 XXXI Januari 2009. Betapa tidak, sebagai ungkapan praksis dari Konsili Vatikan II, dan tentu saja menuju perealisasian hasil Sinode V Keuskupan Agung Medan yang telah berlangsung awal Desember 2008 yang baru lalu, Hirarki Gereja KAM kita menulis beberapa artikel berkaitan dengan politik, khususnya PEMILU 2009 yang akan datang.

Lihatlah dengan serius Sajian Utama di bawah Judul: DIPANGGIL UNTUK MERASUL DI BIDANG POLITIK, oleh P. Antonius Moa, Lic.S.Th., hlm. 3 s.d. 5; sementara P. Uliraja Simarmata di bawah judul MENJADI CALEG, SIAPA TAKUT?, hlm. 6 s.d. 7 [termasuk di dalamnya pencermatan Ketua Komisi HAK KAM P. Benno Ola Tage, Pr] dan serasa merangkumkan dalam kolom SAPAAN GEMBALA, Mgr. Anicetus B. Sinaga juga menyinggung ihwal KERASULAN AWAM DALAM SEKULARITAS, hlm10. PROFICIAT!

Fenomena itu ingin menegaskan kepada Umat Katolik, bahwa politik juga merupakan “medan” kerasulan kita. Sekaligus juga menyiratkan, bahwa, PEMILU 2009 merupakan momentum politik yang sangat strategis bahkan “menentukan” perjalan kita sebagai Gereja [Bangsa dan Negara] selama lima tahun ke depan. Sebab itu, umat Katolik, terutama Generasi Muda agar tidak takut berpolitik, sebagai usaha dan tanda kehadiran kita di bidang pengudusan sekularitas [bdk. KEPRIHATINAN DAN HARAPAN, Surat Gembala Prapaskah KWI 1997].

Anekaragam Bangunan Politik yang Hakiki

Menjadi simpatisan, anggota, kader, pengurus dan atau Caleg Partai Politik adalah bentuk-bentuk anggun dari keterlibatan kita di bidang politik. Atas jaminan UUD 1945, kita berhak datang dari aneka-ragam kategori panggilan kehidupan masing-masing kita. Sebagai petani, guru, PNS, pedagang, supir motor [truk, sudaco], insan pers atau media, pekerja sosial, LSM, seniman, budayawan, kolumnis atau penulis dan lain-lain. Di situlah “reksa” politik kita yang sesungguhnya, bukan dalam artifisial-formalistik.

Predikat-predikat profetis itu melekat dari menyatu dengan kehidupan kita, datang dari talenta yang diberikan Tuhan kepada kita, berkat dan melalui Baptis dan Krisma, kita diangkat menjadi Gereja, ambil bagian dalam tugas perutusan Kristus, sebagai Imam [Pengudus], Nabi [Pengajar-warta] dan Raja [Pemimpin atau leader, Bdk. Lumen Gentium Bab I dan II].

Berkat Bapak Uskup dan atau Pastor Paroki, “tiket” ke DPR/D?

Akan tetapi, masing-masing kita tentu amat menyadari, bahwa dalam rangka praksis politik, sebagai Umat atau Orang Katolik tidak cukup hanya bermodalkan Surat Permandian sebagai “tiket” untuk mendapat berkat pengutusan dari Bapa Uskup atau dari Pastor Paroki. Dan dengan bermodalkan “peristiwa pengutusan itu”, kita tergoda untuk merasa Caleg yang paling Katolik atas alter ego.

Tentu saja sikap demikian tidak memadai, bahkan bila defensive, tidak  dikelola dengan rendah hati, kurang cerdas dan lemah kemampuannya dalam menyiasati medan politik secara lengkap dan utuh, termasuk membangun komunikasi politik, tanpa mental fair play yang memadai dengan sesama “Caleg Katolik” dan tanpa kecuali dengan para Caleg dari unsur agama dan kultural lain, sikap demikian justru menjadi “Ketua Lingkungan tanpa Umat” dan akhirnya destruktif.

Tegas, bahwa modal mental siasat politik “si caleg” demikian, amat diragukan kompetensinya menjadi Wakil Rakyat.  Sebab sesungguhnya kadar watak kader Caleg seperti itu sudah dengan terang benderang mengatakan ketidakpercayaan dirinya, posisnya inlander, dunia ala minder yang menyelinap di dada politiknya-nya untuk berkompetisi di “rimba” politik praktis yang sarat dengan berbagai dinamika, intrik yang beragam cara mulai dari kealiman di permukaan sampai ketamakan di kedalaman, betapapun tampil memukau namun dengan segala tipu muslihatnya, maaf!

Menetapkan “Koalisi Domen?”

Mengingat jumlah 38 Partai Politik dengan ratusan/ribuan Caleg yang sangat jauh berbeda dengan dengan jumlah KURSI DPR/D di tingkat Kabupaten dan Kota, Provinsi, Pusat dan [puluhan] DPD yang ikut berkompetisi dalam PEMILU 2009. Maka “Caleg Katolik” mesti semakin intensif membangun komunikasi, memperluas jangkuan pertemuan dan daya rambat representasi wilayah lengkap dengan unsur-unsur yang dimiliki semua reksa pastoral Gereja kita.

Siasat demikian untuk memperhatikan, betapa proses politik dan demokrasi dalam PEMILU 2009 bukanlah perkara formalisme simbol-simbol kultural [marga] dan agama semata-mata, kendatipun nilai dan prinsipnya mendasar bagi seluruh dinamika kehiudpan kita sebagai Gereja dan Bangsa. Mereduksi imanensi horizontal dengan cara menggiring sesama Umat Katolik dan se-Marga se-kuta pada politik praktis adalah kekonyolan dan pendangkalan dari martabat manusia itu sendiri karena usaha demikain tercabut dari pencerahan, pendidikan politik, dan landasan etis-moral.

Dalam rangka menyiasati efektitas modal politik para “caleg Katolik” guna mencapai hasil kemenagan atau perolehan kuris di DPR/D, amat relevan menawarkan sebuah strategi, yaitu “Koalisi Domen” di suatu DAPIL tertentu dengan mempertimbangkan jumlah Umat Katolik, Jumlah Caleg Katolik” dan Jumlah selurunhya. [Catatan: Koalisi Domen, hanyalah salah satu cara inklusif untuk mengenang Misionaris kita yang sangat berjasa di bidang Kategorial. Seorang Pastor, Mantan Moderator Pemuda Katolik Sumatera Utara, salah satu Ormas Katolik yang berfungsi menyiapkan kader-kader Bangsa].

Kriteria Anggota Koalisi dan Arah yang Dituju

Maaf Saudara-saudari Caleg Katolik Yang Terkasih, kita bukan menuju jalan diskrimanasi dalam bentuk dan isi apapun, akan tetapi betapa kita menyadari bahwa kita sedang mengalami karakter politik yang sangat runyamk. Karena seperti yang telah kita cermati bahkan mungkin kita telah ikut menjadi pelaku, bahwa perpolitikan dewasa amat determinan dengan uang [pecunia].

Bahkan tidak jarang kita mendengar letupan senapan control social yang berbunyi: “Hepeng do na mangatur Negara on!” Inilah “Jalan Salib dengan segala perhentiannya” yang mesti kita garami dan terangi bukan dengan kekerasan, mulai dari yang paling halus sampai dengan yang paling kasar: adu jotos-ngotot-saling sikut,intip-mengintip, jatuh-menjatuhkan… akan tetapi dengan terang kebijaksanaan, kerjasama yang kohesif bertemu, saling memeluk dan menyapa dan bersama-sama melihat jauh ke masa depan Gereja dan Bangsa kita [looking forward].

Mendasarkan pilihan politik atas alasan seagama, semarga, family, sekuta/sahuta, konco, se-alma mater, mantan-pacar, rekan bisnis, paguyuban social dan, segala jaringan kehidupan dan kemanusiaan: BENAR DAN BERHARGA. Akan tetapi kuwalitas dari masing-masing Caleg mesti yang paling utama. Dunia politik memang bagian dari keluarga akan tetapi keluarga berbeda dan tidak boleh menjadi objek politik partisan.

Akan tetapi menyadari kompleksnya perpolitikan dalam PEMILU, 9 April 2009 yang sudah di ambang batas waktu, kriteria di atas mesti ditimbang lagi beberapa hal, antara lain: kadar modal dan alasan tersebut pada masing-masing Caleg. Menjatuhkan pilihan hanya karena alas emosional kepada CALEG TERTENTU tanpa memperoleh informasi yang utuh dan lengkap atas masing-masing Caleg, misalnya tentang persentase kemungkinan untuk menang atau memperoleh kursi, akan membuat suara kita sia-sia.

Oleh karena itu, masing-masing kita: Caleg, Perangkat Gereja, Tokoh Masyarakat, Ormas, Pers, PT/Mahasiswa, bekerjasama dengan KPUD dan PANWASLU agar membuka lebar-lebar “Jendela Informasi”: tentang track record, pengalaman berorganisasi (ormas dan partai politik), keutuhan keluarga, jejaring politik, aksebtabilitas, pengalaman menjadi negosiator, penguasaan geopolitik-demografis dan geografis atas DAPIL, kemampuan logistik dll” dari masing-masing Caleg di DAPIL -nya kepada khalayak calon-calon konstituen.

Mesti juga diantisipasi, bahwa tidak akan ada keluarga dari Caleg [Katolik] yang retak atau “sakit” setelah PEMILU, karena kekalahan, kehabisan uang, atau kebohongan kepada banyak pihak. Juga mutlak dijamin kohesi masyarakat pasca-PEMILU 2009, tidak perlu sampai porak-poranda karena berbeda pilihan politik. Justru dinamika politik demikian harus semakin mendewasakan  kita dalam berdemokrasi dan sadar bahwa politik itu inheren dengan konflik [yang produktif].

Selamat menjadi Peserta dalam “Perayaan Demokrasi” di mana anda kalian, para Caleg Katolik berperan sebagai “calon-calon pengantin” yang sportif, fair-play, anggun, memesona dan memikat hati rakyat sebagai mempelai…, menjadi Kotbah yang hidup, Habitus Baru, implementator Panca Tugas Gereja khususnya di dalam dunia politik.

*) Vincensius Sihombing

-Tinggal di Jakarta. –

-Atas sepengetahuan Bapak Uskup Mgr. A.B. Sinaga dan Bapak Uskup Mgr. Ludovikus Simanullang, OFM Cap., Penulis, sering “berkeliaran” di Sumatera Utara, antara tahun 2004-2009.

-Anggota milis IKKSU (Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara).

1 Comment »

  1. 1
    Tupang Says:

    Itulah Katolik itu ya?

    Bener-bener sebuah sifat yang layak tuk di tiru

    Jarang cerita tentang orang Katolik terdengar, sehingga jaranglah kita mengerti yang berharga.

    Namun sekali mendengar atau mengetahui, sangatlah berharga sekali

    Sukses dah Buat IKKSU dan juga yang ikut dalam dunia Politik, pasti Katolik menang hehehe


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: