PROPINSI TAPANULI RIWAYATMU KINI

Oleh: Swandy Sihotang

dsc00328Berbicara mengenai perkembangan kejadian Protap, saya teringat kepada beberapa hal. Seperti contohnya, bagaimana bisa partai yang tidak besar bisa menang di Sumut dalam sebuah pemilihan Gubernur kemarin. Sementara partai-partai besar dengan segala kebolehannya/ kepiawaiannya/ kecerdasannya dan jumlah uangnya yang banyak kalah dan akhirnya pulang  sambil gigit jari?

Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan perjuangan Protap ini? mau tidak mau kita mesti melihat sejarahnya terlebih dahulu. Katakanlah kita tidak akan bicarakan lagi soal residensi yang memang Tapanuli tidak satu residensi dengan Sumatera Utara pada pembagian wilayah zaman Belanda dulu (pembagian residensi ini dijadikan oleh pemerintah RI menjadi dasar pembentukan propinsi-propinsi di Indonesia), tetapi marilah kita lihat sejarah perjuangannya. Sudah dari puluhan tahun yang lalu  masyarakat Tapanuli meminta dimekarkan menjadi propinsi terpisah dari Propinsi Sumatera Utara. Selain karena kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi perbedaannya dengan pesisir sumatera utara bagian timur, juga karena factor dahulu kala Tapanuli adalah daerah yang kaya akan sumber daya alammya tetapi lama kelamaan habis karena factor kekuasaan yang selalu menguras hasil alam dari bagian Tapanuli.

Begitu kentalnya semangat menjadikan Tapanuli menjadi Propinsi sendiri sampai-sampai akhirnya muncul lagu tradisional Tapanuli yakni “Uli ni Tapanuli Molo saut gabe Propinsi”. Perjuangan untuk menjadi Propinsi pun dilakukan, mulai dari yang kasak kusuk sampai dengan negosiasi yang kasat mata. Puluhan tahun perjuangan ini telah berjalan tetap tidak menunjukkan hasilnya. Ini pengalaman pribadi saya, ketika saya  ikut berjuang mewujudkan impian meningkatkan kesejahteraan penduduk Tapanuli dengan memperjuangkannya menjadi Propinsi. Ini bukan semata-semata untuk memperjuangkan DAU dari Pusat, dan ini juga bukan semata-mata karena ada orang yang sangat bernafsu untuk menjadi Gubernur di Protap. Pada tahun 1995 ketika itu, saya dan teman-teman berdemo untuk Protap di BEJ dan meneriakkan supaya pemerintah segera menwujudkan Propinsi Tapanuli. Apa kata, sejak saat itu saya sering ikut pertemuan-pertemuan para tokoh  Tapanuli yang akan memperjuangkan Protap. Namun gaya dan idealisme yang tidak sama menyebabkan saya undur diri. Para tetua-tetua tersebut lebih mengutamakan mengumpulkan uang terlebih dahulu baru berjuang seperti gaya dimasa-masa orde baru, dengan gaya yang sangat berbeda.

Beberapa tahun kemudian muncullah UU Otonomi daerah, banyak sekali daerah-daerah yang mendapatkan privelese untuk mendapatkan pemekaran, justru Tapanuli yang sedari dulu sdh berjuang malah tetap terabaikan. Karena desakan yang terus menerus, akhirnya angin baru pun didapatkan, yakni terbentuknya pansus pemekaran Tapanuli menjadi Propinsi di DPR RI. Entah karena antah berantah, tiba-tiba UU pemekaran pun diubah, setiap daerah yang hendak dimekarkan mesti mendapatkan rekomendasi dari DPRD tingkat 1 (propinsi), tentu saja ini mempersulit posisi Tapanuli yang sedari dulu memang wakil-wakil dari Tapanuli tidak begitu signifikan jumlahnya di DPRD. Skenario ini belum selesai, karena entah karena apa tiba-tiba muncul lagi banyak usulan dari beberapa daerah di SUmut yang hendak mau dimekarkan menjadi propinsi. Lebih dari 4 kelompok daerah mengusulkan pemekaran. Dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pejabat tertentu yang tidak mau Tapanuli menjadi propinsi untuk menghalang-halangi pemekaran. Alasan lain adalah bahwa pada faktanya daerah-daerah yang telah dimekarkan tidak mendapatkan hasil yang baik.

Stres yang cukup dalam dari para tokoh dan masyarakat Tapanuli ter-klimaks sewaktu pertemuan ribuan orang di Tarutung tahun lalu untuk menyuarakan Protap. Aksi damai ini tidak digubris sama sekali. Walaupun beberapa bulan kemudian , Departemen Dalam Negeri membentuk Team yang terdiri dari pejabat-pejabat pusat, berkeliling untuk studi kelayakan menjadi propinsi ke kabupaten-kabupaten daerah Tapanuli yang hendak dimekarkan. Mereka disambut bak Raja yang datang dari Utara. Semua disuguhkan dan dilayani, tetapi hasilnya adalah nol belaka, karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah rekomendasi dari DPRD Sumut.

Akal-akalan inilah yang membuat masyarakat marah, dan yang paling membuat marah adalah pada sidang paripurna kemarin di DPRD Sumut (Kejadiian naas yang menimpa Ketua DPRD), agenda pembicaraan Protap tidak digubris sama sekali, sementara ribuan bahkan jutaan orang menunggu-nunggu sidang paripurna ini dengan harapan Protap minimal diagendakan dalam sidang paripurna tersebut.

Ada kebiasaan jelek pada sistem kebernegaraan kita, dimana kalau orang belum berteriak, pasti tidak didengarkan.  Sebagai contoh, aksi damai yang dilakukan di Tarutung sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan tidak terekam dengan baik oleh media massa, sementara kalau ada anarkisme langsung menjadi NAtional News dan diliput dengan sangat apik oleh media. Coba kita lihat kebelakang, pemekaran daerah mana yang tidak ada demonstrasinya? Semuanya mesti demo-demo dulu baru dimekarkan. Semoga almarhum  sang ketua DPRD tidak menjadi tumbal dari sebuah scenario menggagalkan pembentukan Propinsi Tapanuli. Dan juga, bahwa semua yang terlibat dalam kerusuhan kemarin selayaknya juga mendapatkan hukuman yang setimpal, karena jelas kita tidak menginginkan demo yang anarkis, namun bagi pemerintah cobalah dengarkan rakyatmu karena “suara rakyat adalah suara Tuhan”

***

2 Comments »

  1. 1
    herbet sianturi Says:

    aku berharap jangan cepat2 ngambil keputusan,,
    kita lihat dulu ke depan nya,,
    apa yg suda kita miliki sekrang,,apakah sudah cukup untuk membuat kampung kt sbg provinsi ???
    jgn lah bertindak sendiri,,tolong sesekali dengar suara rakyat mu,,,
    hidup ni hanya sementara,,dan buat lah hidup ini berarti dan slalu memberikan yang terbaik buat semua nya,,,
    jangan memikirkan diri sendiri,
    horas.

  2. 2
    A. Ynar Purba Says:

    Dalam aktualisasi perencanaan pembentukan ProTap, sudah banyak muncul permasalahan dan bibit permasalahan. Kita tahu calonProTap trdiri atas beberapa Sub, baik kemasyarakatan, kedaerahan dan kebiasaan.
    Sesama parHumbang saja tidak cocok. Ada Humbang Hasundutanlah, sementara Siborong-borong yang dari dulu sudah Humbang masuk Tapanuli Utara. Hal seperti ini dapat terjadi karena kuatnya Rasa Ego Daerahisme tersebut. Apalgi nanti TAPANULI, UTARAkah ? Selatan kah tau Tengahkah?.
    Coba diwacanakan, Provinsi Tano Batak. Yang merasa dirinya Suku Batak masuk dalam Provinsi Tano Batak. Hahahah, bercanda. Saya tetap Indonesia Tulen kog.


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: