SIMON SINAGA, MELAWAN PERUSAK LINGKUNGAN

Selasa, 13 Januari 2009 

OLEH:ANDREAS MARYOTO

Pastor Simon SinagaMemasuki usia 66 tahun tak menghalanginya untuk berjalan di goa yang gelap dan terjal. Ia tetap bersemangat mengantar tamu untuk melihat kawasan hutan hasil rehabilitasi lahan tandus dan gersang Sikopi Kopi di Kecamatan Aek Kanopan, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara.

Sejak 1994 saya mengelola lahan ini. Semula lahan ini tandus karena warga menebangi pohon lalu membakarnya menjadi lahan pertanian. Setelah itu, mereka meninggalkan lahan ini,” kata Pastor Simon Sinaga OFM Cap tentang awal mula kondisi kawasan Sikopi Kopi.

Hutan ini sebenarnya biasa saja. Dilihat luasnya, Sikopi Kopi hanya 40 hektar. Hutan ini tergolong kecil dibandingkan dengan luas kebun sawit di Sumut yang hampir mencapai 1 juta hektar.

Akan tetapi, keberadaan hutan di tengah kepungan perkebunan sawit di Sumut bisa menjadi simbol. Simbol perlawanan terhadap perluasan perkebunan sawit yang tak terkendali, kebablasan. Sikopi Kopi secara pasif menahan ”agresi” perkebunan kelapa sawit.

Riwayat Sikopi Kopi bermula saat ordo OFM Cap, salah satu tarekat rohaniwan Katolik, membeli lahan itu. Sinaga lalu menanami kawasan itu dengan berbagai jenis pohon meski ia tak punya pengetahuan layaknya ahli konservasi lingkungan untuk menghijaukan kawasan. Bermodal tekun dan cinta pada lingkungan, setiap kali dia menanam berbagai bibit tanaman di lahan yang kritis.

Setelah 14 tahun, kawasan itu kembali hijau dengan pohon-pohon besar di lereng Sikopi Kopi. Berbagai jenis hewan, seperti kera dan ular, berumah di hutan itu. Semak tumbuh liar, tanaman seperti rotan pun tumbuh leluasa.

Bekas jalan masuk ke hutan ini mulai tertutup tanaman liar. Di dalam hutan terdapat goa yang menjadi habitat kelelawar dan ular. Kehadiran berbagai jenis satwa dan tanaman itu menjadi ciri membaiknya lingkungan.

Pemandangan ini kontras dengan kawasan sekitar yang dipenuhi tanaman kelapa sawit. Pilihan Sinaga memang tak berdampak langsung atau mengurangi perluasan kebun sawit. Ia hanya ingin mengingatkan, hutan harus dijaga dan tak bisa semena-mena diubah semuanya menjadi kebun sawit sebab hutan punya fungsi lain untuk menunjang kehidupan.

”Tak semua orang mau melihat masa depan. Orang suka berpikir instan, ingin mendapat uang dengan cara apa pun, termasuk menebangi hutan untuk kebun sawit. Hutan itu punya banyak fungsi bagi kelestarian makhluk hidup,” kata Sinaga.

Merisaukan

Ketika mulai berkarya sebagai pastor paroki di Aek Kanopan tahun 1986, ia sudah berurusan dengan persoalan lingkungan yang merisaukan. Banyak orang meracuni ikan di kanal-kanal pembuangan air di sekitar perkebunan sawit. Itu tentulah merusak lingkungan meski pelakunya sebagian justru aparat negara.

”Saya pelajari undang-undang, jadi saya tahu mereka melanggar hukum. Saya sempat memotret aparat yang meracuni ikan. Dari gambar itu saya laporkan mereka kepada penegak hukum,” cerita Sinaga tentang kasus yang kemudian dibawa ke pengadilan.

Ia ingin kasus ini dituntaskan. Namun, melihat itikad baik dari mereka yang semula bertindak tak benar itu, Sinaga mau berdamai dengan syarat para tersangka mau memelopori penebaran kembali ikan di kanal-kanal tersebut. Ini sebagai bukti mereka tak akan merusak lingkungan.

Tak cukup dengan itu, sebagai ”hukuman sosial”, saat mereka menebarkan benih-benih ikan ke kanal-kanal di Aek Kanopan pun disaksikan langsung oleh penduduk setempat.

”Orang meracun ikan itu hanya demi makan sekitar dua hari saja. Mereka cuma merasa puas bisa mendapat ikan dalam jumlah banyak. Namun, mereka tak menyadari, setelah semua itu habis, akan terjadi kelaparan,” kata Sinaga. Peristiwa ini membuat cintanya terhadap lingkungan makin membesar.

Tanaman kemenyan

Setelah merawat Sikopi Kopi, belakangan ini Sinaga berupaya menjaga kepunahan tanaman kemenyan di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dia melihat penebangan hutan yang terus-menerus di kawasan ini akan mengurangi lahan kemenyan.

Padahal, jenis tanaman itu masih sulit dibiakkan dan belum ditemukan cara budidayanya. Kemenyan tumbuh dan berkembang secara alami. Bila tanaman kemenyan punah, Indonesia akan kehilangan salah satu kekayaan hayatinya.

Kemenyan adalah salah satu tanaman yang hanya tumbuh di wilayah barat kawasan Sumut. Penebangan hutan yang terjadi di daerah itu sungguh berpotensi mengurangi populasi pohon kemenyan.

”Ancaman terhadap tanaman kemenyan sangat nyata. Hutan itu terus dibabat,” kata Sinaga mengisahkan perilaku perusahaan yang tidak memahami pentingnya keberadaan jenis tumbuhan tersebut. Ia punya alasan kuat untuk mempertahankan kemenyan.

Sinaga lalu bercerita, riwayat bangsa ini terkait dengan berbagai jenis tanaman di berbagai tempat di Nusantara, salah satunya kemenyan. Pelabuhan Barus, pelabuhan tua di pantai barat Sumut, pun sejak zaman dahulu telah menjadi tempat pengiriman kemenyan hingga ke berbagai kota di Timur Tengah dan Eropa.

”Tanaman kemenyan harus kita selamatkan karena bisa punah bila dibiarkan saja (dibabat),” kata Sinaga.

Ia kembali mengkritik penebangan hutan yang terus terjadi, ”sekadar” demi kepentingan ekonomi sesaat hingga merusak tanaman kemenyan.

Perusak lingkungan

Sinaga terus bergelut dengan pemikiran tentang masalah itu. Ia pun mencoba ”memahami” pemikiran para perusak lingkungan.

Ia heran dengan sikap sejumlah pengusaha yang terus merusak hutan. Sebab, mereka relatif berpendidikan dan tahu bila perusakan itu dilanjutkan, bencana hanya tinggal menunggu waktu.

”Ternyata lebih mudah mengelola tanaman dibandingkan dengan mengelola manusia,” kata Sinaga menyinggung perilaku para perusak hutan.

Di sisi lain dia menyadari, persoalan ekonomi warga di sekitar hutan yang lemah membuat mereka mudah diajak untuk merambah hutan. Tawaran uang dari pengusaha telah menyeret sebagian warga, juga sebagian pemuka masyarakat, dengan mudahnya ikut merusak hutan.

”Mempertahankan tanaman kemenyan juga merupakan pilihan yang sulit. Sebab, komoditas ini memang masih dihargai rendah,” katanya.

Meskipun begitu, Sinaga tetap memilih berjuang mempertahankan lingkungan agar tetap lestari. Dia memilih tak melawan dengan cara frontal atau menggunakan cara agitatif.

Dengan simbol, Sinaga ingin memperlihatkan adanya kesalahan dalam pengelolaan lingkungan. Sekecil apa pun simbol itu, ia berusaha menghadirkannya, termasuk dengan memakai tas berbahan daur ulang.



Biodata

Nama: Simon Sinaga OFM Cap

Lahir: Palipi, Samosir, Sumatera Utara, 7 Agustus 1943


Pendidikan:

– SR Katolik, Palipi, tamat 1958

– SMP Seminari Menengah Pematang Siantar, 1961

– SMA Seminari Menengah Pematang Siantar, 1965

– Studi Filsafat Seminar Tinggi Kapusin Parapat, 1970

– Studi Teologi Seminari Tinggi Kapusin Pematang Siantar, 1973

– Ditahbiskan menjadi imam, 5 Januari 1974


Pekerjaan:

– Guru Seminari Menengah Pematang Siantar, 1974-1977

– Pastor sejak 1977-kini

2 Comments »

  1. 1
    isabella Says:

    saya senang mengetahui masih ada yang peduli dengan alam Indonesia yang semakin miskin baik karena disengaja maupun tidak. semoga semakin banyak orang yang terinspirasi dengan apa yang telah dilakukan oleh Romo simon..

  2. 2
    Benyamin Sitepu Says:

    Dia hanya orang desa. semua hidupnya di habiskannya di pedesaan. Dia sudah berpulang, dan dia meninggalkan sejarah walaupun sekilas kita melihat apa yang dialakukan hal biasa tetapi besok lusa akan banyak orang mencari dan memanggil namanya. Selamat jalan Pastor.


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: