TUAK DAN BEGU GANJANG

Oleh: Pastor Dr Sirilus Manalu OFMCap. MA

Pengantar

minum-tuakMelihat judul tulisan ini, “Tuak dan Begu ganjang”, secara spontan timbul pikiran bahwa tulisan ini merupakan tulisan yang sungguh-sungguh korelatif atau sebab akibat. Artinya dengan tulisan ini kita akan menemukan hubungan korelasi positip atau negatif antara tuak dan begu ganjang. Dengan korelasi positif dimaksudkan bahwa bila semakin banyak orang meminum tuak maka akan semakin tinggilah kemungkinan adanya pemelihara begu ganjang sebaliknya dengan korelasi negatif dimaksudkan bahwa semakin banyak orang meminum tuak semakin sedikitlah terjadinya pemelihara begu ganjang. Dengan hubungan sebab-akibat dimaksudkan bahwa minuman tuak akan menyebabkan adanya pemelihara begu ganjang.

Dengan rendah hati harus diakui bahwa tulisan ini tidaklah lahir dari suatu penelitian korelasi dan sebab-akibat seperti disebutkan di atas tetapi justru mau melihat beberapa factor yang mungkin bisa diteliti secara dalam oleh para peneliti yang tertarik akan topic tuak dan begu ganjang. Dengan demikian, tulisan ini hanyalah pemancing inspirasi bagi para peneliti untuk membuktikan kebenaran-kebenaran yang diungkapkan dalam tulisan ini.

Tuak dan Begu Ganjang adalah dua topic yang sangat berbeda. Akan diusahakan oleh penulis menjembatani keduanya secara psikologis. Tinjauan ini tentulah jauh dari sempurna. Tulisan ini justru menantang penulis untuk meneliti secara lebih rigid/keras efek tuak dalam kehidupan bermasyarakat bahkan dalam konteks masyarakat yang sering diganggu oleh issu begu ganjang.

Tulisan ini seperti judulnya akan berbicara pertama-tama tentang tuak, lalu begu ganjang. Tulisan akan ditutup oleh bagian ketiga yaitu koneksi antara tuak dan begu ganjang.

BAGIAN PERTAMA:

TUAK EFEKNYA UNTUK PRIBADI DAN KEHIDUPAN BERSAMA

Saya yakin, kita semua mengenal minuman tuak. Kalau kita belum pernah mencicipinya, saya yakin kita pernah melihatnya.

Apa itu tuak?

Tuak adalah salah satu minuman yang masuk dalam golongan alcohol, hasil fermentasi dari bahan minuman/buah yang mengandung gula. Umumnya tuak di daerah Sumatera Utara terbuat dari tanaman/pohon aren atau kelapa.

Tuak adalah alcohol yang berkadar rendah, harus banyak diminum supaya bisa mencapai efek yang bisa diharapkan bila dibandingkan dengan minuman alcohol lainnya seperti bir dan anggur. Sebagai bagian dari alcohol, tuak adalah minuman psikoaktif yang diklasifikasikan sebagai minuman yang membuat tenang (depressant), yang berarti bahwa minuman ini akan menekan berbagai kegiatan dari system saraf sentral para peminumnya. Pada mulanya, tuak ini nampaknya bekerja sebagai pembuat stimulasi (stimulant) karena hal ini mengurangi rintangan-rintangan dalam saraf tetapi kemudian hal ini menekan banyak reaksi fisiologis dan psikologis (Plotnik, 1999:182).

Dan untuk peminum tuak, tuak ini menjadi bagian dari bevarages yang harus diminum khususnya pada malam hari. Tidak heran, kedai-kedai tuak sering dipenuhi oleh para peminumnya yang mayoritas adalah bapak-bapak dan pemuda-pemuda. Para peminum ini dengan sendirinya akan meninggalkan rumah mereka pada pada sore hari dan kembali dari kedai tuak pada malam hari (hingga larut malam atau subuh). Jarang sekali orang membeli tuak lalu meminumnya di rumah.

Daya tarik tuak ini tidak perlu diragukan lagi mengingat begitu banyak bapak dan anak muda yang sungguh-sungguh menikmati hidupnya di kedai khususnya pada sore dan malam hari. Apalagi untuk menambah daya tarik tuak ini si pemilik kedai sering juga menyediakan makanan pelezat (tambul) dan berupa permainan seperti main judi.

Sampai sekarang, minuman tuak masih sangat merakyat di daerah Sumatera Utara apalagi untuk orang Batak Toba yang tinggal di bona pasogit atau tempat-tempat lain. Hampir di setiap kampong ada kedai yang sering dinamakan kedai tuak atau lapo tuak. Di kota Siantar dan kota-kota kecil lainnya pastilah juga terdapat beberapa kedai tuak. Walaupun tidak hanya tuak dihidangkan di kedai tersebut, namun nama kedai itu justru diambil dari minuman tuak ini.

Bila meminum sedikit, tuak akan mencipta keramahan. Semakin banyak, tuak akan mengganggu kemampuan peminumnya untuk mengerti kejadian-kejadian penting yang berlangsung di sekitarnya. Semakin banyak diminum maka orang tersebut akan secara serius mengalami gangguan koordinasi gerak tubuh, kemampuan pikiran, membuat keputusan dan bicara. Bila semakin banyak, alcohol bisa membuat pingsan, koma dan kematian (Plotnik, 1999:182).

Alasan Minum Tuak

Ada beberapa alasan mengapa orang minum tuak. Alasan itu bisa terungkap secara spontan, bisa diamati dan bisa juga dianalisa sebagai berikut:

1. Menyehatkan. Tuak itu sering dianggap berguna antara lain menyehatkan, menghangatkan dan menyegarkan orang yang meminumnya. Tuak termasuk sumber vitamin, sama seperti buah apel. Dengan demikian tuak juga memberi kekuatan dan bila cuaca dingin, tuak akan menghangatkan. Dalam pesta Batak misalnya seperti pesta adat, minuman ini sering disuguhkan. Selain karena memang minuman ini tidaklah dilarang atau diperbolehkan serta harganya pun bisa terjangkau bila dibandingkan dengan jenis alcohol lain seperti anggur dan bir, minuman ini membuat suasana pesta dan kebersamaan lebih hangat dan bersemangat.

2. Obat Penenang. Tuak juga menjadi semacam obat penenang. Bila sulit tidur, tuak akan membuat gampang tidur. Tuak sering dianggap sebagai obat termasuk obat untuk orang-orang yang kurang merasa enak badannya.

3. Alat sosialisasi. Tuak adalah minuman yang diterima umum sebagai minuman yang menghangatkan grup, pesta bahkan peserta sermon. Tuak membuat sosialisasi di kedai menarik dan menghibur. Para peminum yang berkumpul seringkali mengekspressikan diri dengan ngobrol-ngobrol, main judi, nyanyi-nyanyi dan sekali-sekali bertengkar dengan teman sekedai.

4. Obat stress. Sebagian menggunakan tuak itu sebagai obat stress. Masalah yang terjadi di dalam pekerjaan, di dalam hubungan interpersonal di rumah tangga sering diatasi dengan tuak. Stress membuat mereka susah, tetapi dengan minum tuak, masalah itu bisa dilupakan dan perasaan menjadi enak. Malah, ada kemungkinan bahwa candu dalam alcohol atau hal-hal lain kemungkinan bisa diassosiasikan dengan isolasi dan hubungan interpersonal yang sangat miskin atau kering sehingga obat sakit dan kesepian didapat dari obat-obat terlarang termasuk alcohol. Kemungkinan besar, wanita menjadi alkoholik karena gangguan afektif yang tidak didapatnya di dalam keluarga sedangkan laki-laki yang menjadi alkoholik karena kegagalan dalam hubungan akan cenderung berperilaku antisocial(bdk. Straussner dan Zelvin, 1997: 37). Tuak bisa dijadikan sebagai obatnya.

5. Ritus kedewasaan. Dalam beberapa budaya di luar negeri, minum banyak alcohol merupakan ritus untuk menuju kedewasaan (Straussner dan Zelvin, 1997: 299). Artinya kalau si pemuda telah sanggup minum banyak alcohol, dia sudah bisa diterima sebagai orang dewasa. Di daerah ini, minum tuak juga tanda bahwa dia sudah termasuk orang yang dewasa.

6. Tuak membuat berani. Ada orang yang takut berkelahi atau tampil di muka umum. Maka untuk para penakut, tuak memicu keberanian baik untuk melawan orang lain maupun untuk tampil di depan umum.
Nampaknya, fungsi-fungsi di atas sangat positip. Individu terbantu oleh tuak itu sendiri karena memang tuak ini beralkohol rendah. Namun bila dipelajari dan dilihat dari kenyataan yang ada, tuak itu memberikan efek negatif yang lebih banyak untuk para peminumnya. Secara pelan-pelan dan bertahap tuak atau alcohol lainnya menuntun orang yang meminumnya menjadi seorang alkoholik. Peminum tuak sering terpaku pada alasan minum tuak di atas. Jarang orang melihat efek tuak itu sendiri. Kalaupun dilihat, karena sudah terbuai oleh perasaan enak yang ditimbulkan oleh tuak tersebut, orang tetap bertahan minum tuak. Malah rationalisasi dipakai untuk membenarkan aktivitas minum itu dengan menekankan aspek positipnya. Tetapi benarkah bahwa aspek positip dari minum ini ditekankan?

Orang Amerika telah melihat bahaya alcohol itu sendiri. Karena itu mereka telah mengkategorikan alkoholisme sebagai penyakit. Alkohol adalah penyebab gangguan kesehatan yang ketiga paling berbahaya sesudah kanker dan penyakit jantung. Karena alcohol ini secara signifikan telah berkaitan dengan berbagai masalah pribadi dan social di masyarakat, banyak orang berpendapat bahwa inilah minuman yang paling berbahaya bila dibandingkan dengan semua minuman atau zat-zat legal dan illegal. Untuk membuktikan itu, mereka menunjukkan persentasi bahaya yang telah disebabkan oleh alcohol sebagai berikut(Plotnik, 1999:183):

– 90% dari pemerkosaan di kampus berkaitan dengan alcohol oleh pemerkosa bahkan juga pada korban.

– 68% yang tertuduh sebagai terlibat dalam pembunuh manusia dan 63% pelaku telah menggunakan alcohol.

– 63% kejadian dimana suami melakukan kekerasan terhadap isteri terlibat alcohol.

– 46% kematian di jalan raya juga berkaitan dengan alcohol.

– 50% mahasiswa dan 39% mahasiswi telah terlibat binge (memuntahkan yang dimakan).

– 35% mahasiswi minum dan mabuk sementara 15 tahun lalu hanya 10%.

– 11% kecelakaan dalam pekerjaan karena alcohol.

– 8-21% bunuh tejadi karena alcohol.

– 7% mahasiswa tingkat 1 berhenti kuliah karena alcohol.

Apa yang terjadi di Amerika mungkin telah terjadi di Indonesia, tetapi karena data-data kita belum terekam dengan baik seperti halnya di Amerika, maka informasi bahaya alkoholik masih sangat terbatas apalagi yang ada kaitannya dengan tuak di daerah kita.

Menjadi Alkoholik

Terbuai oleh enaknya minum tuak, secara pelan-pelan peminum digiring ke alkoholisme. Telah diterima umum di Amerika bahwa alkoholisme adalah suatu penyakit kronis yaitu suatu penyakit yang telah dibentuk melalui beberapa tahapan minum. Artinya, penyakit ini mengikuti tahapan-tahapan tertentu sehingga akhirnya orang tersebut akan disebut alkoholik.

Menurut Pita (Pita: 28-31), para peneliti telah memberikan fase-fase bagaimana seorang peminum bisa menjadi alkoholik sebagai berikut:

Fase Pra-alkoholik (Prealcoholic Phase). Pada fase ini minum alcohol sudah mulai dimotivasi secara social. Orang tersebut telah mengalami kesegaran sesudah minum dan sudah mencari-cari berbagai kesempatan untuk minum dan mengalami yang sama. Hubungan antara minum dan menghilangkan stress telah dibuat secara sadar. Karena itu minum telah digunakan untuk mengatasi masalah. Begitulah, fase ini bisa terjadi beberapa bulan sampai dua tahun sehingga toleransi terhadap minuman semakin kuat. Toleransi artinya, orang tersebut harus meminum lebih banyak alcohol untuk mencapai perasaan yang sama.
Fase Sakit (Prodromal Phase). Pada fase ini sudah ada tanda-tanda bahwa dia mulai sakit. Hal itu nampak dari fase blackouts, artinya orang tersebut kehilangan ingatan untuk sementara. Hal ini menjadi bukti bahwa dia tidak lagi meminum alcohol sebagai minuman biasa (beverages) tetapi sudah menjadi kebutuhan. Orang tersebut sudah semakin banyak minum sebelum pesta, dan sering menyembunyikan minuman di kamarnya untuk memenuhi kebutuhan minumnya. Minum sendiri ini juga dibuat agar menghindar dari konsekuensi negatif dari orang lain.
Fase Krusial (Crucial Phase). Fase ini ditandai dengan kehilangan control atas minuman itu. Orang tersebut memiliki kebutuhan untuk selalu minum. Untuk itu dia membuat rationalisasi atas kebutuhannya untuk minum tersebut. Memang dia sendiri pun sudah merasa bahwa ada sesuatu yang salah tetapi tak bisa menerangkannya. Sering dia merasa berdosa atas kebutuhannya akan minum. Pada fase ini, hidupnya sudah dikontrol dan berpusat pada alcohol. Perhatian dan persahabatan/tanggungjawabnya atas keluarga drastis menurun.
Fase Kronik (Chronic Phase). Fase ini ditandai dengan minum pada pagi hari dan mabuk sepanjang hari. Orang tersebut butuh minum untuk bisa berfungsi di pagi hari dan seringkali nampak bahwa orang tersebut tremor bila tidak minum. Alkohol akan menghilangkan tremor dan membuat orang tersebut bisa berfungsi biasa. Sedikit alcohol saja telah bisa membuat dia mabuk. Toleransi alcohol akan semakin meningkat sehingga perlu meminum lebih banyak lagi untuk menghasilkan rasa enak. Proses berpikir sungguh rusak. Proses inilah yang menghasilkan kecemasan dan rasa panic.

Bahaya Alkoholik

Kita melihat dari keterangan di atas bahwa alcohol sungguh menghancurkan hidup individu. Dengan menghancurkan hidup individiu, alcohol juga secara tidak langsung menghancurkan hidup keluarga dan bersama. Jadi walaupun tidak berkadar tinggi, alkohol bila disalahgunakan akan mengakibatkan gangguan-gangguan yang kompleks dalam bidang biologis, psikologis dan social yang kemudian punya pengaruh yang besar untuk masyarakat (Butcher, et.al, 2004: 388). Kekuatan tuak untuk menghancurkan orang terletak dalam kadar alcohol yang rendah serta rasa khusus yang diberikannya kepada si peminum. Secara pelan tetapi pasti, tuak akan membuat si alkoholik kehilangan control atas dirinya sehingga dia tidak akan bisa lepas dari alcohol itu lagi. Dengan kata lain alkoholik tidak akan mampu sembuh dari penyakitnya lagi. Bila tidak diobati si alkoholik akan membutuhkan alcohol lebih banyak secara permanent dan pelan-pelan akan menggiring si peminum ke kematian. Dengan demikian alkoholik adalah penyakit terminal.

Karena bahaya ini, para ahli medis di luar negeri (AMA), telah menerima alkoholik (orang-orang yang sudah tergantung pada alcohol) sebagai penyakit yang membutuhkan pengobatan medis. Sangat umum diterima bahwa orang yang sudah candu dalam hal minum alcohol tidak lagi memiliki control atas alcohol itu dan tidak memiliki kekuatan kemauan (will power) untuk berhenti (Pita, 1995: 23-26).

Tidak heran, alkoholisme didefenisikan oleh World Health Organization (WHO) dan AMA sebagai suatu penyakit kronis, progressif dan dapat diobati dalam mana orang tersebut telah kehilangan control atas minuman tersebut shingga minuman itu telah mengganggu bidang kehidupan yang sangat penting seperti keluarga, hubungan dengan teman-teman, gangguan di sekolah atau kesehatan ( “a chronic, progressive, treatable disease in which a person has lost control over his or her drinking so that it is interfering with some vital area of his or her life such a family and friends and school or health.”

Atau seperti didefinisikan oleh Jellinek “Alkoholisme adalah suatu penyakit sehingga penggunaan alkohol terus walaupun hal itu menyebabkan berbagai masalah di setiap bidang kehidupannya.” (Alcoholism is a disease in which the person’s use of alcohol continues despite problems it causes in any area of life”) (Pita, 1995: 23-26).

Karena kehancuran individu dan bersama yang disebabkan oleh alcohol ini, selain masalah kesehatan fisik (biologis) seperti kerusakan lever dan otak (memori dan mengatasi masalah) ada berbagai masalah yang ditimbulkan oleh alcohol ini antara lain masalah psikologis seperti kelelahan kronis, gampang tersinggung (oversensitivity) dan kesedihan mendalam (depressi) serta masalah social seperti kurangnya perhatian pada keluarga serta berbagai kesulitan dalam keluarga. Dalam hal hidup berkeluarga dan bersahabat ini misalnya, karena orang tersebut sungguh dikurung oleh pikiran minum ini sehingga dia tidak bisa menikmati hidup bersama dengan diri sendiri, keluarga, teman-teman dan karir lepas dari minuman ini sehingga alkohol merusak kesehatan individu, merusak hubungan personalnya dengan orang lain dan merusak kerjanya juga (Butcher, et.al.:385).

Situasi buruk individu di atas diperparah lagi apabila dia juga menggunakan zat-zat lain seperti narkoba. Hal ini juga sangat mungkin. Para ahli (McCrady & Epstein, 1999: 79-80) telah melihat bahwa orang yang telah menyalahgunakan alcohol, juga akan gampang menggunakan zat-zat lain (other substances). Kombinasi yang biasa adalah alcohol dan kokain juga nikotin. Bila hal ini terjadi maka si alkoholik akan sangat terpuruk.

Walaupun efek alcohol ini sedemikian buruk untuk kesehatan individu dan kehidupan bersama, alkoholik di Indonesia belum dianggap sebagai suatu penyakit sehingga para peminum di Indonesia tetap bebas berkeliaran. Dimana-mana di Sumatera Utara, kedai tuak tetap dipenuhi oleh bapak-bapak dan pemuda-pemuda siang dan malam. Dari sekian banyak bapak dan pemuda-pemuda itu, banyak juga orang Katolik yang menjadi pelanggan tetap tuak. Masalah-masalah yang menerpa individu seperti diterangkan di atas tadi terjadi juga untuk orang-orang Katolik. Dengan kata lain, banyak orang Katolik yang telah dililit oleh tali alcohol dan tak bisa lagi lepas. Mereka ini hanya menunggu waktunya untuk dihajar oleh alcohol dan mereka sendiri akan secara tidak sadar telah menderita. Dan karena penderitaan mereka, alcohol ini juga secara tidak langsung telah menyiksa banyak keluarga Katolik sekaligus, keluarga yang tersiksa ini akan mengkontribusikan berbagai pemasalahan social di Gereja dan masyarakat.

Hingga sekarang belum ada tindakan tegas dari pemerintah untuk para peminum berat. Keluarga-keluarga yang melihat anggota keluarganya alkoholik juga tidak bisa bertindak banyak karena tiadanya perangkat ketegasan dari pemerintah mengenai status alkoholik ini. Bila berhadapan dengan keluarga yang alkoholik, mereka seringkali bingung dan menanggung masalah itu sebagai salib yang harus dipikul. Pada hal bila ini diterima sebagai penyakit seperti di Amerika, maka orang tersebut wajib dirumahsakitkan dan harus menjalani rehabilitasi sebelum dilepaskan kembali ke keluarganya.

Refleksi Psikologis

Sebenarnya efek negatif dari tuak untuk kehidupan bersama telah dikenal oleh orang Batak sendiri dari pengalaman. Tuak ini telah memberikan bahaya yang telah disadari oleh para peminumnya seperti terungkap dalam ungkapan berikut yang sumbernya sering tidak jelas:
Nikmatnya Tuak

Satu gelas tuak, penambah darah

Dua gelas tuak, lancar bicara

Tiga gelas tuak, mulai tertawa-tawa

Empat gelas tuak, mencari gara-gara

Lima gelas tuak, hati membara

Enam gelas tuak, membuat perkara

Tujuh gelas tuak, semakin menggila

Delapan gelas tuak, membuat sengsara

Sembilan gelas tuak, masuk penjara

Sepuluh gelas tuak, masuk neraka

Melihat efek negatif dari tuak ini untuk pribadi peminum, tidak heran begitu banyak keluarga asal alkoholik ini terganggu, dan kalau mereka terganggu tentu masyarakat darimana dan dimana si alkoholik tinggal juga terganggu.

Inilah beberapa gangguan yang mungkin disebabkan oleh si alkoholik
Keharmonisan keluarga. Gangguan pertama yang mungkin dialami oleh keluarga adalah keharmonisan keluarga. Orang-orang yang sudah alkoholik tidak lagi peduli terhadap kesejahteraan keluarga tetapi sudah terpusat pada kebutuhan pribadinya untuk minum. Si alkoholik seringkali tidak lagi bisa mengerti mengapa anggota keluarga lain marah atau kecewa terhadapnya, sebaliknya, dia justru meminta pengertian dan dukungan atas kebutuhan minumnya. Bila hal ini tidak terpenuhi, ketegangan, percekcokan akan terjadi. Akibatnya, keluarga tidak lagi bisa hidup harmonis karena memang tidak ada lagi sharing dan usaha untuk saling mengerti. Di keluarga seringkali terjadi kesengsaraan, kegilaan dan neraka.
Gangguan ekonomi. Selain ketidakharmonisan, keluarga alkoholik cenderung makin miskin. Banyak uang habis hanya untuk memenuhi kebutuhan minum apalagi kalau orangnya tidak berusaha lagi menambah matapencaharian tetapi justru menghabiskan untuk diri sendiri. Dalam situasi ekonomi yang makin sulit sekarang, banyak bapak dan pemuda tetap mempertahankan cara hidupnya di kedai. Akibatnya, kesulitan ekonomi di rumah tangga sangat dirasakan serta dukungan dana untuk pendidikan anak-anak dan kesehatan sangat minim kalau tidak ada. Maka keluarga sering mengalami ketegangan setiap kali uang tidak tersedia lagi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, pendidikan bahkan kebutuhan rumah tangga. Anak-anak alkoholik seringkali tidak mampu sekolah karena ketiadaan uang sehingga pendidikan tetap rendah. Bila hal ini terus-menerus terjadi, maka keluarga dan anak-anak akan tetap hidup miskin.
Gangguan kekerasan. Karena gangguan-gangguan di atas hubungan interpersonal dalam rumahtangga seringkali tergganggu dengan terjadinya percekcokan, kekerasan bahkan perceraian. Anggota keluarga khususnya anak-anak tentu seringkali menjadi korban kekerasan verbal, fisik, emosional dari sang alkoholik. Mereka akhirnya menderita secara batin, bingung, malu dan bahkan mengalami ketakutan. Sebagian anggota keluarga malah sangat takut tinggal di rumah dan ingin segera merantau walau modal tidak ada. Sementara karena tuak, sang alkoholik semakin mengganas, menggila dan mencipta neraka bila kebutuhan dan keinginan pribadinya tidak terpenuhi. Dalam hal ini, ada bukti cukup kuat (Breakwell, 1998:35) untuk mendukung gagasan popular bahwa alcohol dalam jumlah sedang akan meningkatkan perilaku agresif meskipun memang ada perbedaan besar antar individu yang satu dengan yang lain sejauh mana mereka dibuat lepas kendali oleh alcohol.
Gangguan social. Orang yang yang sudah minum tuak, tidak terlalu peduli dengan ide-ide kesuksesan dan isu-isu perkembangan. Mereka terfocus pada minuman. Keterlibatan dalam gereja, social dan masyarakat bisa jadi masih ada tetapi dalam konteks, dia harus tetap memenuhi kebutuhan minumnya. Dia terlebih aktif dan bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan minum. Dengan kata lain, sumbangan yang diharapkan lebih seringkali tidak bisa lagi. Mereka seringkali menjadi model yang kurang baik di masyarakat. Begitu banyak energi mereka sia-siakan dengan hanya menikmati hidup di kedai. Mereka ini sering kali membuat keributan di kampong atau di tempat mereka mabuk.

Bila banyak keluarga alkoholik macam ini, tidak heran akan begitu banyaklah pengalaman negatif seperti ketidakharmonisan dalam keluarga, pemiskinan keluarga dan akhirnya bermuara pada kekerasan dalam rumah tangga.

Telah disadari oleh para ahli bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu bersifat siklis. Artinya anak-anak yang telah menyaksikan kekerasan yang dibuat oleh orangtua atau bahkan telah melecehkan mereka kemungkinan besar akan membuat kekerasan dan melecehkan orang lain ketika mereka sudah dewasa. Transmissi intergenerasi dari kekerasan tidak terhindarkan. Hampir kebanyakan orang yang telah menyaksikan atau mengalami sendiri kekerasan di dalam keluarga asal mereka tidak akan dengan sendirinya membuat kekerasan dalam keluarga baru mereka tetapi kemampuan kekerasan untuk menyebar melalui semua cabang keluarga sungguh-sungguh mungkin dan inilah hal yang sangat mengganggu (Brehm, 1993, 388).

Jenis-jenis kekerasan yang dikembangkan itu tentu tidak satu jenis. Hal itu sungguh tergantung pada kondisi pribadi dan lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Untuk masyarakat Batak, kekerasan yang sering terjadi itu seringkali tidak terlalu nampak, tetapi dalam kenyataan selalu ada pribadi-pribadi tertentu yang dituduh membuat masalah bagi yang lain. Masalah itu seringkali nampak dalam hal membuat penyakit bagi orang lain. Dalam hal ini, selalu ada kecurigaan, ketidakpercayaan dan akhirnya mengarah pada ketegangan antar anggota masyarakat.

Diharapkan bahwa dalihan natolu sebagai dasar hubungan interpersonal Batak itu akan bekerja untuk menyelesaikan masalah dan ketegangan. Namun dalam praktek, dalihan natolu itu hanya bekerja dalam praktek adat, tetapi fungsinya dalam kehidupan sehari-hari apalagi dalam kaitan dengan hal-hal negatif yang tidak nyata seringkali tidak tersentuh.

Agama yang kiranya meletakkan dasar cintakasih, pengampunan dan saling mendukung kiranya seringkali tidak laku lagi apalagi bagi para peminum. Para peminum jarang mengikuti kegiatan pembinaan Gerejani atau rohani. Mereka lebih menikmati hidup bersenang-senang di kedai tuak dan tak peduli lagi untuk mengikuti acara di Gereja. Bila ketepatan ada yang ke Gereja, agama itu sering mereka pakai untuk menutupi hal-hal yang tidak baik dari perilakunya. Orang yang dituduh misalnya pemelihara begu ganjang, seringkali lebih rajin dibanding dengan orang lain.

Tinjaun Psikologis dan Lahirnya Kejahatan

Dari keterangan di atas nampaklah bahwa individu alkoholik itu egois. Dia tidak peduli dengan keluarga dan anak-anak apalagi orang lain. Dia tidak lagi peduli dengan kemajuan dan kesejahteraan bersama. Orang-orang yang telah menikmati nikmatnya alkhohol khususnya tuak sudah melihat tuak sebagai pusat hidupnya.

Seperti dikatakan di atas, alkoholik itu sangat sensitive, gampang curiga dan cemburu. Dia tidak dengan gampang menerima kemajuan dan kehebatan orang lain. Karena curiga dan cemburu, dia tidak senang kalau orang maju. Maka terjadilah ketegangan diam-diam. Ketegangan diam-diam ini seringkali melahirkan rasa dendam dan maksud jahat untuk orang lain. Rasa curiga ini bisa dibagikan kepada teman-teman “senasib” di kedai dan di sinilah nanti lahir rencana untuk “mengganggu” orang yang maju, orang yang baik.

Tatanan moral yang sudah dipatrikan dalam adat tidak lagi dipegang. Suara hati yang ditanamkan dan diperkenalkan Gereja juga tidak befungsi karena tidak pernah diisi dengan prinsip-prinsip Tuhan. Yang ada hanyalah dorongan emosi yang dipicu dan dipacu oleh alcohol. Yang bekerja adalah thanatos seperti ungkapan Freud, yaitu prinsip kematian. “ Dang di ahu, dang di ho, tumagon ma di begu”. Artinya, tidak sama saya, tidak untukmu tetapi lebih baik untuk hantu. Late akhirnya gampang timbul. Late atau kedengkian yang arahnya menghancurkan bahkan membunuh direncanakan dan sering dilaksanakan.

Individu dan masyarakat yang dipenuhi maksud-maksud jahat karena sudah dirusak oleh alcohol mungkin jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun karena keberaniannya untuk bertindak, mereka ini sering kali berpengaruh. Tokoh-tokoh yang dihormati di kedai tuak seringkali lebih didengar kelompoknya daripada tokoh-tokoh Gereja atau masyarakat. Premanisme akhirnya lebih menonjol sementara suara Gereja akhirnya tidak terlalu diperhatikan.

Kadang, alat Negara yang diharapkan bisa lebih berani menegakkan keamanan juga hidup tidak jauh berbeda dari para alkoholik. Tidak jarang alat keamanan sendiri termasuk kelompok peminum tuak ini. Mereka akhirnya tidak bisa bertindak tegas dan adil karena memang kekacauan dan keonaran dibuat oleh kelompoknya. Situasi macam ini sudah lama berlangsung sehingga dimana tuak makin banyak dikonsumsi, disitulah kejahatan lebih banyak timbul. Gereja-gereja yang diharapkan turut memperbaiki situasi tidak bisa juga berbuat banyak karena bapak-bapak yang sudah terbuai oleh enaknya tuak tidak lagi rajin mendengar kotbah-kotbah dan pengajaran yang sebenarnya paling cocok untuk mereka. Kejahatan tetap timbul dan merajalela baik yang sudah berakar kuat di dalam diri individu-individu maupun juga dalam kelompok masyarakat yang dibentuk oleh individu-individu ini.

BAGIAN KEDUA:

FENOMENA BEGU GANJANG DAN PERSEPSI ATASNYA

Fenomena Begu Ganjang
Baru-baru ini penduduk Hutaginjang di Kecamatan Pakkat, Kabupaten HUMBAHAS heboh karena warga menuduh seorang bapak memelihara begu ganjang dan dialah dituduh yang menyebabkan matinya warga di kampong-kampung sekitarnya. Untuk membuktikan itu mereka pergi ke Onan Ganjang kepada seorang dukun dan dukun itulah yang mengkonfirmasi bahwa dia memelihara begu ganjang.

Kasus yang kurang lebih serupa terjadi di salah satu desa di Tobasa, yaitu di Desa Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Seorang warga yang sudah tua, EH [70 tahun], dituduh memelihara begu ganjang. EH pernah terlihat menari-nari dengan bertelanjang di halaman rumahnya pada tengah malam. Kejadian ini mendapat ingatan yang makin hidup karena ada warga yang meninggal mendadak serta anak-anak di sana sakit-sakitan. Isu itu diperkuat lagi ketika suatu malam, sekitar pukul 00.00 beberapa bulan lalu, seorang warga memergoki EH bugil dan berlari-lari kecil sembari menari di pekarangan rumahnya. Tak lama berselang, di sebuah dusun lain berjarak 500 meter dari rumahnya, dia lagi-lagi terlihat oleh warga melakukan hal yang sama. “Waktu itu dia menari sambil mengelilingi sebuah pohon aren,” kata sumber Blog Berita Dot Com.

EH dituduh memelihara Begu Ganjang karena seorang guru meninggal di desa itu dan kematiannya mendadak tanpa penyakit sebelumnya. Beberapa anak-anak juga dikabarkan sering sakit-sakitan. Semua kejadian itu menurut warga adalah aneh dan perlu orang tersebut dicurigai. Mereka ribut, lalu meminta kepala desa “menyidang” EH. Pertemuan pun digelar. Kala itu EH mengakui bahwa dia memang pernah bugil sambil berlari-lari di halaman rumahnya. “Supaya badanku hangat saja, dan aku tidak pernah pelihara begu ganjang,” katanya. Namun warga desa tetap tidak percaya. Mereka mengumpulkan uang untuk menyewa seorang paranormal terkenal dari Kutacane, Aceh yang ahli mengenali Begu Ganjang. Paranormal ini masih muda, berusia sekitar 25 tahun, seorang perempuan. Warga berhasil mengumpulkan uang Rp 7 juta untuk dia.

Desa heboh. Sekitar 50 orang personal polisi dari Polsek Laguboti dan Polres Tobasa turun ke sana, Mulai pagi hingga sore hari Desa Lumban Bagasan pun ramai didatangi warga dari sejumlah desa dan kecamatan lain. Di sebuah rumah tetangga EH, sang paranormal bersiap-siap menjalankan ritualnya. Dia meminta EH berhadapan dengannya, disaksikan kepala desa dan beberapa orang saksi. Tapi EH tidak bersedia menemui si orang pintar. Akhirnya paranormal tidak jadi melakukan ritual, dan dia pulang setelah mendapat honor. Dan begitulah hampir setiap tahun kehebohan karena kasus begu ganjang terjadi di kabupaten-kabupaten di Sumut.

Persepsi Orang Batak tentang Begu Ganjang
Keberadaan begu ini menurut salah satu situs orang Batak di internet [www.blogberita.com] diakui karena memang orang Batak mengenal tiga konsep “roh”, yaitu: Tondi, Sahala dan Begu.

Tondi adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Sahala adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.

Begu adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam. Beberapa begu yang ditakuti oleh orang Batak, yaitu:

· Sombaon, yaitu begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan mengerikan.

· Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu

· Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri huta/kampung dari suatu marga

· Begu Ganjang, yaitu begu yang sangat ditakuti, karena dapat membinasakan orang lain menurut perintah pemeliharanya.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha, yang walaupun sudah menganut agama Kristen, dan berpendidikan tinggi orang batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.

Begu ganjang adalah, konon, hantu peliharaan yang bisa disuruh pemiliknya untuk mencari kekayaan, dengan syarat mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal. Begu ganjang; kalau diterjemahkan bebas menjadi hantu panjang. Menurut cerita dari mulut ke mulut, begu ganjang di zaman dulu sengaja dipelihara oleh warga untuk menjaga ladang atau lahan pertanian. Di zaman sekarang fungsi begu ganjang berubah yaitu untuk mencari kekayaan. Si pemilik begu ganjang, konon, harus membunuh seseorang untuk memuluskan niat memperoleh harta itu. Katanya, begu ganjang bekerja pada malam hari khususnya pada jam 24.00 WIB sampai dengan kira-kira pukul 04.00 WIB. Begu Ganjang ini seringkali mengincar wanita yang baru melahirkan. Dalam berbagai kasus, orang yang memelihara begu ganjang sering dituduhkan pada warga pendatang.

Extrasensory Perception (ESP)

Sebagian kecil orang bisa menyaksikan adanya roh dan begu ini. Namun karena tidak bisa banyak orang bisa membuktikannya, penglihatan-penglihatan macam ini sering kali diragukan. Para psikolog atau psikiater gampang menuduh penglihatan macam ini sebagai halusinasi penglihatan dan sering orang tidak mempercayainya secara verbal. Namun demikian, hampir semua individu orang Batak cukup yakin akan adanya begu ini.

Dalam psikologi dikenal Extra Sensory Perception (ESP), yaitu sejumlah pengalaman psikis (psychic) yang berhubungan dengan menerima (perceive) atau mengirim informasi (gambaran-gambaran) diluar proses atau saluran sensori yang normal.

Hampir semua buku yang membahas persepsi dalam psikologi menerangkan bahwa ada empat kemampuan umum dalam ESP ini yaitu telepathy, precognition, clairvoyance dan psychokinesis. Telepathy adalah kemampuan untuk mengirim pikiran-pikiran seseorang kepada orang lain atau membaca pikiran-pikiran orang lain. Precognition adalah kemampuan untuk meramalkan kejadian-kejadian atau mengetahui kejadian sebelum terjadi. Clairvoyance adalah kemampuan untuk mengerti kejadian-kejadian atau objek diluar penglihatan. Psychokinesis adalah kemampuan untuk menguasai benda lewat pikiran misalnya dengan menggerakkan benda-benda tanpa menyentuh mereka. Kekuatan psikis atau ESP ini disebut psi phenomena atau fenomena psi (Plotnik,:138; Moran, 1999).

Setengah penduduk Amerika, Negara dimana penelitian tentang ini dibuat, percaya bahwa ada persepsi ini namun para psikolog masih tetap bergulat untuk membuktikan persepsi ini dengan penelitian yang teruji. Dan sampai sekarang banyak psikolog tetap masih ragu akan ESP karena belum ada dukungan scientific tentang ini karena itu masih banyak dari mereka yang berminat untuk terus mengadakan penelitian tentang ini (Feldman, 2005:132-133).

Perjuangan yang sama tetap hidup di daerah ini. Meskipun belum ada usaha penelitian yang keras secara metodologi seperti yang diadakan di Amerika, isu tentang adanya begu ganjang masih tetap hidup. Lebih jeleknya, efeknya untuk kehidupan bersama kita nampaknya lebih terasa karena banyaknya orang yang tiba-tiba sakit atau meninggal tanpa tahu alasan yang yang pasti. Walaupun demikian efek-efeknya untuk kebanyakan orang tetap menjadi sumber-sumber kecemasan dan ketakutan.

BAGIAN KETIGA:

ULASAN PSIKOLOGIS ATAS TUAK DAN BEGU GANJANG

Pada dasarnya tuak adalah minuman yang menyehatkan bila diminum pada porsi yang tepat. Namun, kita telah melihat bahwa tuak telah sering disalahgunakan dan telah melemahkan banyak individu sehingga mereka tak mampu lagi mengontrol hidup mreka lepas dari tuak. Tuak telah dijadikan sebagai pusat hidup sehingga prinsip Anakhonhi do Hamoraon di Ahu” (Anakku merupakan kekayaan bagiku) telah terhapus. Demikian juga nilai-nilai keluarga seperti digariskan di dalam dalihan na tolu serta nilai-nilai Kekristenan seperti ditanamkan oleh Kristus atau kevakuman rohani (Kosmas dalam Media Unika, 2001:1-9) tidak lagi mempengaruhi pola hidup. Banyak individu sekarang berpusat pada diri, ego dan dengan demikian berbagai masalah timbul dalam keluarga sendiri dan masyarakat.

Dengan bangkitnya “ego” timbullah begitu banyak pikiran dan perasaan yang tidak enak. Sebagian masalah timbul karena sakit hati, tersinggung, salah pengertian. Sebagian lagi karena masalah harajaon (kerajaan) di kampung atau tanah. Banyak masalah terjadi dalam hubungan interpersonal sehingga sering timbul saling curiga, tidak percaya, benci, menghianati yang lain, bersaing secara negatif, cemburu dan lain-lain. Masalah-masalah ini tidak bisa lagi ditangani secara lebih positip tetapi hampir selalu diselesaikan dengan cara yang negatif yaitu dalam semangat tuak atau alcohol.

Memang sebagian besar konflik-konflik batin ini seringkali tidak ditampakkan dan nampak tenang di permukaan tetapi untuk seseorang atau keluarga api terus berkobar dan menyala. Karena itu pula secara diam-diam, orang yang sudah dipenuhi dengan “ego” ini secara diam-diam mencari penyelesaian dengan menggunakan energi negatif. Kalau keahlian itu tidak ada padanya sering kali hal ini dimintakan kepada orang pintar atau belajar dari orang pintar dan kalau kemampuan itu dia punya, dia akan berusaha mentransfer itu dengan segala usaha dan cara sehingga orang lain yang “dianggapnya” bersalah akan kena. Dengan kata lain, selain konfrontasi fisik (jarang sekali terjadi), penyelesaian seringkali dibuat dengan cara mistik atau guna-guna termasuklah di dalamnya dengan tenaga begu ganjang.

Praktek marbeguganjang ini sangat sulit dibuktikan tetapi hampir semua orang yakin bahwa cara ini ada dan sangat mengerikan karena itu tidak hanya membuat penyakit aneh-aneh yang tidak bisa diobati dokter tetapi terlebih bisa membuat kematian tiba-tiba sebagaimana telah diceritakan sebelumnya.

Di daerah ini hal ini semakin sulit dibuktikan karena memang kalau orang sakit masih jarang dibawa ke Rumah Sakit. Penduduk di daerah ini masih jarang mengadakan check up atau pemeriksaan yang teratur ke rumah sakit. Karena itu, kematian atau penyakit seseorang sering kali dianggap tiba-tiba dan penyebabnya sering dilemparkan kepada kuasa kegelapan. Padahal mungkin penyebab aslinya ialah karena dia mengidap penyakit yang belum diperiksakan secara medis sebelumnya. Tambah lagi, alat-alat pemeriksaan Rumah Sakit kita di daerah ini masih sangat terbatas. Sering tenaga medis mendiagnose suatu penyakit hanya berdasarkan stetoskop atau interview singkat.

Karena itu sulit sekali membuktikan kasus begu ganjang ini. Sulit sekali juga membuktikan bahwa orang tersebut memelihara beguganjang karena memang tidak bisa dilihat oleh mata dan disentuh oleh tangan. Yang ada adalah bahwa orang yang sakit secara tiba-tiba dan mengalami ketakutan-ketakutan aneh sering secara diam-diam pergi berobat ke orang pintar. Para orang pintar sering memberitahukan bahwa penyakit dan kematian orang tertentu dibuat oleh orang tertentu yaitu par-beguganjang. Orang pintar pun sering tidak menyebut secara langsung orangnya tetapi menunjuk pada ciri-cirinya. Tambah lagi, si korban yang sembuh justru sering diam-diam dan menghindari orang pembuat penyakit dan kematian tersebut.

Situasi macam ini mencipta kebencian baru, sakit hati dan dendam. Rasa sakit hati, dendam melemahkan sistim kekebalan tubuh. Bila hal ini tidak diatasi dengan cara yang positip yaitu dengan mengampuni seperti yang diminta oleh Yesus, maka suatu usaha baru untuk balas dendam akan terjadi. Kondisinya pun semakin lemah dan gampang sakit. Bila memang cara Tuhan tidak dipakai untuk mengatasi masalah ini maka akan ada kemungkinan untuk menggunakan mistik pula untuk membalaskannya atau bahkan dengan agressi, pembakaran atau pembunuhan atas orang yang dituduh par-begu ganjang seperti terjadi di Kecamatan Pakkat, Humbahas dan Palipi, Tobasa tahun 2000. Hukum yang berlaku bagi orang yang tidak mengenal Tuhan ialah mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Orang yang sudah diperlemah oleh alcohol baik secara langsung atau tidak langsung juga akan makin lemah secara fisik dan psikis. Ada kemungkinan, penyakit-penyakit baru pun timbul. Penyakit-penyakit itu antara lain ketakutan akan begu ganjang. Ketakutan-ketakutan ini akan menambah stress dan mungkin akan melemahkan jiwa dan raganya sehingga suatu saat bila kondisinya tidak makin baik dia sendiri karena halusinasinya melihat begu ganjang dan mati atau sakit.

Dengan demikian, isu begu ganjang adalah isu yang cukup pelik apakah itu muncul karena ketakutan dari dalam yang luar biasa sehingga menghasilkan halusinasi begu ganjang atau itu terjadi karena orang lain yang mentransfer energi negatif dalam rupa begu ganjang sehingga membuat orang sakit dan mati tiba-tiba karena ketakutan dan shock?

Sayang sekali orang-orang yang memiliki ESP di Amerika belum bisa menerangkannya kekuatan mereka secara ilmiah. Ada kekuatan itu tetapi bagaimana pembuktiannya secara ilmiah masih tetap dinanti.

Para ahli ini membuat kita makin sadar bahwa ada kekuatan itu dan kekuatan itu masih perlu dipelajari sehingga suatu saat kita makin bisa mengenalinya, kalau bukan karena kita memiliki ESP sekurang-kurangnya karena secara ilmiah bahwa begu ganjang telah terbukti.

Penutup

Tuak telah merusak banyak individu dengan demikian telah merusak banyak mental hidup para peminumnya termasuk orang-orang Kristen. Mental yang rusak ini tidak lagi memiliki kekuatan untuk membangun tetapi merusak.

Mental seperti ini adalah persemaian yang hebat untuk tindakan-tindakan yang merusak termasuk mentransfer energi negatif kepada orang lain. Mental seperti inilah yang terbuka untuk belajar dari yang jahat dan bukan dari Tuhan.

Gereja dan Negara yang bertanggungjawab membangun mental umat dan warganya harus dengan bijaksana menghambat proses perusakan yang dibuat oleh tuak atau alcohol lainnya sejak dini. Kalau terlambat hampir tidak ada gunanya kecuali Negara sudah membuat vonis bahwa alkoholik adalah suatu penyakit yang harus diobati sehingga setiap orang yang telah alkoholik wajib menjalani rehabilitasi sebelum diterjunkan kembali ke masyarakat.

Mungkin ini hanya mimpi tetapi begitulah yang mungkin bisa menolong bila tidak prinsip nikmatnya tuak itu akan tetap merusak individu, masyarakat dan Gereja kita.

Dr. Sirilus Senator Manalu
Biara Kapusin Nagahuta
Pematangsiantar

CURICULUM VITAE
Pastor Sirilus Manalu (Senator Manalu), lahir tgl. 20 Juli 1963, di Hutapinang Pakkat. Selekas menamatkan SMP RK Pakkat, dia melanjutkan sekolah di Seminari Menengah dan Tinggi sejak tahun 1980-1993. Dia ditahbiskan imam Kapusin tgl. 10 Juli 1993.

Sejak ditahbiskan, dia ditugaskan di Paroki Saribudolok sebagai pembantu pastor paroki dari tahun 1993-1995 dan kemudian sebagai Sekretaris Propinsi sejak 1995-1997. Dia tinggal di Nagahuta sejak menjabat sebagai sekretaris Propinsi Medan tetapi tetap berkantor di Jl. Sibolga, Pematangsiantar.

Ordo menugaskan dia studi lanjut untuk mengambil Psikologi Klinis di Manila. Tugas itu diembannya sejak Oktober 1997 dengan studi di University of Santo Tomas, Manila dengan mengambil program Masteral dan Doktoral. Tahun 2005 studi itu diselesaikannya dan dia langsung membuka praktek menolong orang sakit mental di Nagahuta, Pematangsiantar. Sejak itu sampai sekarang dia menangani poliklinik mental di biara tersebut sambil memberikan berbagai macam seminar, retret dan bimbingan pribadi kepada keluarga, biarawan-biarawati dan kepada umat Allah.

Kepustakaan:
Breakwell, Glynis M. Coping With Aggressive Behaviour. Kanisius, Yogyakarta, 1998.

Feldman, Robert S. Essesntials of Understanding Psychology (6th Ed.).McGraw Hill, Boston, 2005.

Kaplan, Harold I. dan Sadock, Benjamin J. Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry (8th Ed.). Williams And Wlkins, Maryland, USA, 1998.

Kosslyn, Stephen dan Rosenberg, Robin S. Psychology: The Brain, The Person, The World. Allyn and Bacon, Boston, 2001.

McCrady, Barbara S. dan Elisabeth E., Epstein (Editors). Addictions: A Comprehensive Guidebook. Oxford University Press, 1999.

Moran, Sarah. Psychics: The Investigators and Spies Who Use Paranormal Powers. CLB, Quadrllion Publishing Ltd., England, 1999.

Pita, Dianne Doyle. Addictions Counseling. The Crossroad Publishing Company, New York, 1992.

Plotnik, Rod. Introduction to Psychology (5th Ed.). ITP, Publishing Company, Belmon, et.al., 1999.

Straussner, S.L.A. dan Zelvin, Elizabeth (editors). Gender And Addictions. Jason Aronson, Inc. New Jersey,1997.

Tumanggor, Kosmas. Isu Begu Ganjang Suatu Fenomena Kevakuman Rohani dalam Media UNIKA Tahun 13 No.36 September-Oktober 2001.

Publikasi oleh Swandy Sihotang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: