Orang Batak Melesat di Jalur Militer

(Dari rubrik SOROT Edisi 02 Okt-Nov 2007)
Oleh P. HASUDUNGAN SIRAIT

MUTASI dan promosi di tubuh TNI yang diumumkan Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Madya Sagom Tamboen Kamis 6 September lalu menarik, terutama kalau dilihat dari kacamata orang Batak. Setidaknya tiga perwira tinggi Batak dari Angkatan Darat (AD) yang berpromosi: Letjen Cornel Simbolon, Mayjen Hotmangaradja Panjaitan, dan Brigjen Azmyn Yusri Nasution. Cornel menjadi wakil kepala staf Angkatan Darat, Hotmangaradja menjadi asisten teritorial KSAD, dan Azmyn menjadi panglima Divif 2/Kostrad. 

Promosi Cornel Simbolon menjadi orang kedua di AD menarik dicatat. Terutama karena sudah lama Batak-Kristen seperti dia tidak menduduki posisi ini. Yang terakhir adalah Letjen Adolf Sahala Rajagukguk almarhum. Dari panglima Kostrad (1987-1988), Rajagukguk menjadi wakil KSAD (1988-1992). Belakangan ia dikaryakan sebagai duta besar di India (1992-1996).

Tentu saja kedudukan wakil KSAD sangat strategis. Banyak yang mengincarnya. T.B. Silalahi, misalnya, pernah mendambakannya. Kepada majalah ini T.B. Silalahi mengatakan cita-citanya sewaktu masih aktif di AD adalah menjadi wakil KSAD. “Itu sudah maksimal untuk perwira Kristen seperti saya,” katanya. “Kalau untuk menjadi KSAD tak terbayang. Peluangnya kecil sebab penentuannya sudah penuh dengan pertimbangan politik.” Karir militer anak Balige ini hingga jenjang asisten kepala staf TNI-AD saja. “Tak sampai menjadi wakil KSAD. Saya ditarik ke Departemen Pertambangan menjadi Irjen,” katanya. “Eh, belakangan malah menjadi menteri penertiban aparatur negara. Lebih hebat lagi dari wakil KSAD, ha-ha-ha.”

Secara teoretis wakil KSAD tinggal selangkah lagi untuk menjadi orang nomor satu AD, sementara kesatuan ini sendiri merupakan yang paling besar, kuat, dan berpengaruh di lingkungan TNI. Dengan sendirinya paling dominan di Republik. Seperti kata Mayjen Saurip Kadi, di Indonesia ini tentara identik dengan Angkatan Darat. “Sejak dulu Angkatan Darat yang berkuasa. Sampai tentara itu identik dengan Angkatan Darat,” kata perwira tinggi di markas besar TNI itu. “Aneh memang, di negara maritim ini yang dikembangkan bukan Angkatan Laut. Harusnya Angkatan Laut yang lebih besar dan kuat.”

Dengan menjadi KSAD, seorang perwira tinggi berpeluang besar mempimpin TNI secara keseluruhan. Sebagai catatan, di masa kepresidenan Soeharto praktis semua panglima ABRI/TNI dan menteri pertahanan dan keamanan dari AD. Sejak kepresiden Abdurrahman Wahid saja ada dari angkatan lain.
Lantas, akankah Cornel menjadi orang nomor satu di AD nanti? Aris Santoso, pengamat militer, mengatakan tidak. “Cornel lulusan Akabri ’73; umurnya sudah sekitar 56. Sebentar lagi pensiun, sama halnya dengan kawan-kawannya seangkatan,” kata Aris. “Dia menjadi wakil KSAD basa-basi saja. Ya, semacam cuci gudang. Untuk menjadi KSAD, menurut saya, dia nggak mungkin terutama karena bukan muslim. KSAD-nya sudah dipersiapkan kok.”

Primordialisme terutama yang berkaitan dengan suku dan agama, menurut Aris Santoso, tetap mewarnai penjenjangan militer kita. “Secara resmi memang tidak ada, tapi dalam praktik terasakan. Seseorang boleh gemilang, tapi belum tentu akan diberi posisi strategis sebagai pemimpin pasukan,” katanya. “Hotma Marbun, misalnya, yang sekarang menjadi wakil komadan Kodiklat. Dia cemerlang dan sekarang bintang tiga. Tapi, nggak dikasih pegang Kopassus. Soenarko yang dipercaya sebagai Danjen.”

Saurip Kadi membenarkan soal primodialisme ini. Menurut dia, dikotomi Islam bukan Islam di tubuh tentara, AD khususnya, makin terasakan setelah Soeharto makin merapat ke kubu Islam di akhir kekuasaannya. Gejala yang tampak di permukaan adalah munculnya istilah ABRI merah-putih dan ABRI hijau. “Di zaman saya ini terasa. Kawan-kawan saya merasakan akibatnya,” kata Saurip Kadi. “Di angkatan saya, misalnya, Romulo Simbolon yang paling cemerlang. Ternyata akhirnya karirnya kurang mulus.”

Romulo Robert Simbolon lulusan Akabri Darat 1973. Ia seangkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Cornel Simbolon. Karir Agus Wirahadikusumah dan Ryamizard jauh lebih mulus dibandingkan dengan Romulo. Terkenal progresif, Agus Wirahadikusumah menjadi sangat terkenal di masa kepresiden Gus Dur berkat gagasan-gagasan reformisnya. Berpangkat terakhir Letjen, ia sempat menjadi aisten perencanaan umum (Asrenum) panglima TNI dan panglima Kostrad. Gus Dur hendak mempromosikan dia menjadi KSAD, tapi kabarnya ditolak oleh 120 perwira tinggi AD. Agus meninggal mendadak pada Agustus 2001. Adapun Ryamizard, ia lebih beruntung karena bisa sampai KSAD. Menggantikan Agus Wirahadikusumah sebagai Pangkostrad, menantu Try Sutrisno ini berkibar di masa kepresidenan Megawati. Mega di akhir kekuasaannya mecalonkan dia ke DPR sebagai panglima TNI. DPR setuju. Ternyata Mega diganti oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bukannya Ryamizard yang dipercaya SBY sebagai panglima, melainkan Endriantono Sutanto yang sudah akan pensiun. Setelah
Endrianto pensiun, ia diganti panglima sekarang, Marsekal Djoko Suyanto.

Terang bahwa karir Agus Wirahadikusumah dan Ryamizard jauh lebih cemerlang dibandingkan dengan Romulo. “Romulo dan Saurip Kadi sahabat Agus Wirahadikusumah; jadi ketika Agus dihambat mereka berdua pun terkena getahnya,” kata Aris Santoso. “Mahidin Simbolon pernah juga mengalami hal serupa. Ia dekat dengan Parabowo. Ketika Prabowo jatuh, ia pun terganjal. Untung saja dia bisa masuk orbit lagi.” Mayjen Mahidin Simbolon, yang berhasil menangkap Xanana Gusmao, kini menjadi inspektorat jenderal TNI AD (Irjenad).

Sebenarnya primordialisme ada di mana-mana; tak hanya di lingkungan militer. Di lingkungan tentara sendiri adanya sudah sejak awal lembaga militer negara resmi terbentuk (Tentera Keselamatan Rakyat—TKR diresmikan Sukarno pada 5 Oktober 1945). Misalnya, Sudirman menjadi panglima besar pada November 1945 karena pemilihan berlangsung di Yogyakarta dan pemilih sebagian besar orang Jawa Tengah. Sedangkan perwira senior macam Kawilarang dan Maludin Simbolon tak sampai menjadi KSAD karena mereka dari kaum minoritas. Simbolon, misalnya, menolak dicalonkan diri karena merasa tak enak pada kelompok mayoritas. Begitupun primordialisme tak selalu mewarnai promosi militer. Itulah yang membuat tidak ada riak ketika T.B. Simatupang yang dipilih menjadi orang nomor satu di tentara (ia menjadi kepala staf Angkatan Perang—KSAP) setelah Jenderal Sudirman meninggal.

Sejak Soeharto berkuasa tahun 1966 primordialisme ini praktis surut. Selama 32 tahun bertahta,
ia menjadikan militer, birokrasi, dan Golkar sebagai pilar utama kekuasaannya. Ketiganya disinergikan dengan menyinkronkan program dan lalu lintas pejabat. Lihatlah, betapa banyak pejabat dari kelompok minoritas (secara agama atau suku) di sana. Kompetensi dan loyalitas kepada sang penguasa yang lebih menentukan. Di militer, misalnya, orang seperti Maraden Panggabean dan Benny Moerdani bisa menduduki jabatan puncak. Panggabean menjadi menhankam/panglima ABRI (1973-1978) dan menko Polkam (1978-1983); Benny Moerdani menjadi panglima ABRI/panglima Kopkamtib (1983-1988). Sudomo bisa disebut juga. Laksamana ini sewaktu masih Kristen lama menjadi panglima Kopkamtib, lembaga yang sangat berkuasa di masanya.

Boleh dibilang primordialisme mengental di negeri ini sejak awal tahun 1990 dan berlangsung sampai kekuasaan Soeharto berujung (saat ini berkembang lagi, terutama akibat otonomi daerah yang ditafsirkan sendiri-sendiri). Sebelum tahun 1990 prinsip bebas masuk, bebas berkarir, dan bebas berpromosi berdasarkan kompetisi berlaku terutama di lingkungan AD. Hasilnya, cukup banyak orang Batak (dari semua agama: terutama Islam dan Kristen) yang menjadi jenderal.

Menjadi jenderal
Mayjen Saurip Kadi mengatakan ada anggapan umum AD adalah tentara atau tentara adalah AD. Dari perspektif orang Batak pun ucapan Saurip Kadi ini benar. Lihatlah: orang Batak banyak yang jadi tentara, namun terkonsentrasi di AD. Sedikit saja di Angkatan Laut atau Angkatan Udara. Di kepolisian lumayan banyak, tapi polisi bukanlah tentara. Di Angkatan Daratlah orang Batak berkibar sejak awal kemerdekaan.

Orang Batak pertama yang menjadi perwira tinggi AD berasal dari tiga jalur utama yaitu eks-KNIL, eks-tentara Jepang (terutama Gyugun dan Heiho; adapun Peta adanya hanya di Jawa-Bali), dan eks lasykar. Unsur KNIL sedikit saja dan di antara mereka terdapat A.H. Nasution dan T.B. Simatupang. Keduanya lulusan Akademi Militer Bandung (Koninklijke Militaire Academie—KMA), seperti halnya Kawilarang, Mokoginta, Kartakusumah, dan Abdul Kadir (Ulf Sundhaussen—1986). Lulusan Gyugun antara lain Maludin Simbolon. Yang paling banyak adalah unsur lasykar. Di antaranya Lahiradja Munthe, Laupasa Malau, Ricardo Siahaan, Junus Samosir, dan A.E. Manihuruk. Lasykar yang terkenal di Sumatera Utara kala itu antara lain Barisan Pemuda Indonesia (BPI), Napindo, Pesindo, Barisan Harimau Liar (BHL), Hizbullah, Barisan Merah dan Marsose (Liberti Malau dkk.).

Setelah kemerdekaan para eks-KNIL, Gyugun, dan lasykar ini berpromosi menduduki posisi-posisi utama di tubuh AD. Setelah mereka, berlahiranlah angkatan baru perwira Batak yang merupakan produk sekolahan. Sekolah utamanya adalah Akademi Militer Nasional (AMN) yang kemudian berubah nama menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Lembaga inilah penghasil utama perwira Batak. T.B. Silalahi, Sintong Panjaitan, Luhut Panjaitan, Amir Sembiring, Arifin Tarigan, hingga Cornel Simbolon lulusan sekolah ini. Satu lagi dan yang sangat penting adalah Feisal Tandjung. Lulusan AMN angkatan 1961 ini pernah menjadi panglima ABRI. Feisal (1993-1998) dan Maraden Panggabean adalah Batak pemuncak dalam militer Indonesia.

Alhasil, banyak sudah orang Batak yang mencapai jenjang jenderal. Antara lain adalah (namanya diurut alfabetis) Abdul Manaf Lubis, Abdul Muluk Lubis, Achmad Rivai Harahap, Adolf Sahala Rajagukguk, A. Husni Pohan, Albertus Maruli Tambunan, Amir Sembiring, Arifin S.S. Tambunan, Arifin Tarigan, Arsenius Elias Manihuruk, August Marpaung, Cornel Simbolon, Djamin Gintings, Donal Izacus Panjaitan, E.W.P. Tambunan, Feisal Tandjung, Hasudungan Simanjuntak, Hopman Sitompul, Kaharuddin Nasution, Kilian Sidabutar, Jansen Rambe, Junus Samosir, Justin Sinaga, Lahiradja Munthe, Laupasa Malau, Luhut Panjaitan, Mahidin Simbolon, Maraden Saur Halomoan Panggabean, Marah Halim Harahap, Marsan Siregar, Mulai Panjaitan, Oeloeng Sitepu, Pieter Damanik, Radjamin Purba, Raja Inal Siregar, Raja Kami Sembiring Meliala, Raja Meteksa Tarigan, Ricardo M.J. Siahaan, Richard Panggabean, Risman Daulat L. Tobing, Romulo Simbolon, Roni Sikap Sinuraya, Rudolf Butarbutar, Sahala Nababan, Sintong Panjaitan, Sjamsir Siregar (kepala BAKIN sekarang), Sudi Silalahi, Tiopan Bernard Silalahi, dan Todo Sihombing. Paling tidak, mereka berpangkat Brigjen. Marah Halim Harahap, Kaharuddin Nasution, E.W.P. Tambunan, dan Raja Inal Siregar pernah menjadi gubernur Sumatera Utara. Daftar ini sebenarnya bisa lebih panjang lagi. Dan di masa depan niscaya akan bertambah panjang lagi.

Sebuah catatan menarik tentang orang Batak di militer dibuat oleh pengamat-sejarawan militer Ulf Sundhaussen. Dalam kitab Politik Militer Indonesia 1945-1967 (LP3ES, 1986) ia mencatat, “Tiga dari kedelapan panglima tentara antara 1945 dan 1979, dan tiga dari keempat Panglima Angkatan Bersenjata yang bertugas secara berturut-turut adalah orang Batak”. Kalau Feisal Tandjung yang menjadi panglima ABRI setelah tahun 1979 dimasukkan, maka angka itu tentu akan lebih fantastis.

8 Comments »

  1. 1
    jackz Says:

    luar biasa, proud…

  2. TNI DULU DENGAN TNI SKARANG JAUH BEDA…
    di indonesia kalaw gak ada uang,,jangan berharap jadi apa2.,
    hanya bisa berangan2 aja.

  3. 4

    Mohon diperbaiki nama dari Risman Daulat Lumban Tobing yg seharusnya adalah Krisman Daulat Lumban Tobing (mantan anggota DPR/MPRRI Fraksi ABRI PERIODE 1971-1982) dgn pangkat Brigadir Jenderal Asal Kodam Bukit Barisan…terima kasih…hormat saya James Tobing (putra dr Krisman Daulat L.Tobing)

  4. 5
    smadu Says:

    JENDRAL RUMULO SIMBOLON BELUM MAU BANTU BANGUN PULAU SAMOSIR KENAPA

  5. 6
    annie Says:

    Salute dengan para Jenderal.. dimanakah sekarang Mayjen (Purnawirawan) Todo Sihombing? Kami sekeluarga ingin mengucapkan terimakasih..semoga beliau beserta keluarga selalu berada dalam perlindunganNya, Amin..

  6. 7
    Batak terpinggirkan Says:

    kesimpulan jika orang batak memberontak habislah negara ini.memang klu karir dan prestasi orang batak tak bisa di tandingi di semua bidang pemerintahan,Hukum,dan Militer namun akibat agama dan suku Batak selalu di belakang Layar…coba anda amati setiap Partai Politik yg memakai Jasa orang Batak Parpol tersebut berjaya….namun Batak punya kelemahan tidak mau berontak menghancurkan dinding tersebut

  7. 8

    Seorang jenderal pernah berkata
    “kamu tau, orang batak itu aset negara loh”

    Kami bangga menjadi putra/putri batak
    Kami bangga menjadi warga negara di dalam bingkai NKRI.

    Jaya terus TNi, di Darat di Laut, dan di Udara


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: