Dahulu sampai sekarang Jakarta merupakan tujuan utama para perantau termasuk orang-orang dari Sumatera Utara salah satunya pasangan suami isteri almarhum Bpk A.Siregar dan Ibu R. Fransiska R Br Nasution. Sebelum menginjakkan kakinya di Jakarta pasangan ini semula bermukim di Palembang. Namun karena tugas yang diemban oleh si suami sebagai seorang polisi, mereka pindah ke Jakarta pada tahun 1955. Read more »
SEJARAH BERDIRINYA IKKSU DI JAKARTA
May 9, 2011Tubuh dan Kekuasaan
June 25, 2010Oleh John Ferry Sihotang
Abad 20 – 21 (“abad Ariel-luna-tari”), tema tentang Tubuh – yang sebelumnya tak pernah dianggap serius, kini menjadi penting dan salah satu fokus utama perenungan filsafat kontemporer. Kerapkali tubuh hanya dilihat sebagai “benda” liar, gelap, namun bernilai jual. “Dijadikan” barang dagangan oleh para penguasa dan petarung kapital media massa, “dihakimi” sebagai masalah moral bangsa dan agama, dan “didisiplinkan” karena dianggap penyimpangan dan kegilaan.
Pandangan Mutakhir Tentang Tubuh Read more »
YUBILEUM 75 TAHUN GEREJA KATOLIK DI TANAH BATAK
March 5, 2010YUBILEUM 75 TAHUN GEREJA KATOLIK DI TANAH BATAK,
”Makan Sasagun ‘gak sih?”
Oleh Vincensius Sihombing
Diiluminasikan oleh pandangan Filsuf pertama Indonesia, Prof N Driayakara, S.J., kita memandang Yubileum 75 Tahun Gereja Katolik di Tanah Batak sebagai suatu momentum historicum untuk melakukan repleksi tentang hakikat, makna dan tujuan eksistensial kita sebagai Gereja dan Nusa Bangsa Indonesia.
Betapa tidak, sebab akan terkuaklah di dalamnya pejiarahan mengagumkan akan para Misionaris kita yang datang dari Provinsi Kapusin Belanda, Pastor Sybrandus Van Roossum yang tiba pada penghujung Tahun 1934 di Balige. Atas peristiwa itu, pastor Gentilis yang menulis banyak hal tentang Misi Kapusin di Sumatera dan Kalimantan menulis, bahwa ” Matahari Telah Terbit Di Atas Balige”. Makna liris prosa pastoral itu diteguhkan oleh Mgr. Matthias Brans, OFM Cap Vicarius Apostolic van Padang ketika itu, dengan semboyan ”Carilah Kontak Pada Waktu Siang dan Pada Waktu Malam” (Lihat Pastor Leo Joosten, OFM Cap., Tali Pengukur Jatuh Ke Tanah Permai, Kabanjahe, 2005). Tidak berhenti di situ, Gereja Katolik laksana Salib Kristus mulai tertancap di Bumi Tanah Batak. Read more »
Ekspektasi Etis dari Anggota DPR
October 5, 2009Kasdin Sihotang
Tanggal 1 Oktober 2009, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2009-2014 dilantik. Pelantikan itu merupakan momen legitimasi bagi anggota DPR sekaligus titik berangkat untuk memulai tugas mulia sebagai wakil rakyat. Pelantikan itu tentunya bukan kegiatan seremonial yang bertujuan menghambur-hamburkan uang negara, melainkan harus dipandang sebagai momen yang bermakna etis. Makna etis momentum ini dilatarbelakangi oleh dua hal berikut. Read more »
Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme
September 2, 2009Judul : Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme
Penulis : Kasdin Sihotang
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2009
Tebal : 166 halaman
Harga : Rp 35.000
Resume Buku
“Persoalan kemanusiaan semakin banyak dan semakin kompleks. Ironisnya, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang pada hakikatnya bertujuan untuk memberikan solusi atas masalah hidup manusia, ternyata banyak memberi andil bagi munculnya persoalan-persoalan humanisme.
Para pelaku ekonomi mengabsolutkan keuntungan di atas segala-galanya sehingga menghalalkan segala cara dalam perolehannya. Tidak bisa dinafikan, politik yang episteme-nya diletakkan pada kekuasaan yang mengedepankan uang dan kedudukan, membuat para politisi buta akan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam bingkai pola pikir seperti itu manusia dengan begitu mudah dijadikan objek. Keinginan, selera, kekuasaan, dan keuntungan diutamakan; dan pemenuhannya dilakukan dengan segala cara. Ini menyebabkan tergerusnya humanisme dewasa ini.
Buku Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme berupaya membangkitkan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, dengan tekanan pokok pada pemahaman mengenai beberapa dimensi humanitas, yakni manusia sebagai makhluk individual dan personal, sebagai makhluk sosial, mampu memilih, berpengetahuan, menyejarah dan membentuk diri serta dunia melalui pekerjaan” ( sampul belakang).
Filsafat “Memberi”
June 16, 2009Oleh Kasdin Sihotang
“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”
(Dikutip dari Film Laskar Pelangi)
Bagi penulis, kalimat yang dikutip di atas merupakan ungkapan yang
sangat bernas dari film Laskar Pelangi, sebuah film yang mendapat perhatian serius dan luas dari masyarakat, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan jajaran kabinetnya, tahun lalu. Dari awal hingga akhir film, kalimat bernas tersebut diucapkan oleh Pak Harfan (yang diperankan oleh Ikranagara) sebanyak dua kali dengan intonasi yang sangat meyakinkan dan berwibawa.
Kutipan di atas memiliki arti yang sangat mendasar serta aktual dengan konteks situasi sosial sekarang secara global maupun lokal. Atas alasan itulah penulis menempatkannya sebagai titik pijak refleksi etis di kolom etika ini. Read more »